✨ Selamat Datang di Website Resmi SD Negeri Tampojung Tengah | 📅 Sinkronisasi Waktu... | 📞 Kontak: - / sdnegeritampojungtengah@gmail.com
Beranda
Tokoh & Biografi Istilah Terverifikasi Kamus Sekolah

Umar Bin Khattab

Kamus Digital SDN Tampojung Tengah

Tim Penyusun & Glosarium Sekolah

Bagikan:

Uraian & Definisi Istilah

Umar bin Khattab, dengan nama lengkap Abu Hafs Umar bin al-Khattab bin Nufail bin Abdul Uzza, adalah Khalifah kedua dalam sejarah Islam yang memerintah dari tahun 634 M hingga 644 M (13-23 H). Beliau lahir di Mekkah sekitar tahun 584 M dan meninggal dunia di Madinah pada 26 Dzulhijjah 23 H, atau 3 November 644 M, akibat serangan Abu Lu'lu'ah (Firoz), seorang budak Persia. Sebelum memeluk Islam pada tahun keenam kenabian (sekitar 616 M), Umar dikenal sebagai seorang yang tegas dan disegani dari kabilah Bani Adi, salah satu suku Quraisy. Setelah memeluk Islam, ketegasannya digunakan untuk membela kaum Muslimin yang minoritas, memungkinkannya untuk melakukan ibadah secara terang-terangan di Ka'bah. Beliau merupakan salah satu sahabat utama Nabi Muhammad SAW dan mendampingi Nabi dalam berbagai peristiwa penting seperti hijrah ke Madinah serta sejumlah peperangan termasuk Badar, Uhud, dan Khandaq. Sebagai Khalifah, Umar bin Khattab dikenal dengan gelar Amirul Mukminin dan Al-Faruq, yang berarti 'pembeda antara kebenaran dan kebatilan'. Masa pemerintahannya ditandai dengan ekspansi wilayah Islam yang pesat dan signifikan, termasuk penaklukan Syam (sekarang Suriah, Yordania, Palestina) melalui Pertempuran Yarmuk pada 636 M melawan Kekaisaran Bizantium, penaklukan Yerusalem pada 637 M, serta penaklukan Persia (Kekaisaran Sassaniyah) melalui Pertempuran Qadisiyah pada 636 M dan Nihawand pada 642 M. Mesir juga berhasil ditaklukkan di bawah kepemimpinan Amr bin al-Ash antara 640-642 M. Selain ekspansi militer, Umar melakukan reformasi administratif yang fundamental, di antaranya pembentukan Diwan (departemen administrasi negara) pada tahun 639 M untuk mengelola keuangan dan distribusi tunjangan, penetapan sistem peradilan dengan mengangkat qadi (hakim) di setiap provinsi, serta pendirian kota-kota garnisun atau amsar seperti Kufah dan Basra di Irak serta Fustat di Mesir, sebagai pusat pemerintahan dan militer. Beliau juga secara resmi menetapkan kalender Hijriah pada tahun 17 H (638 M), dengan peristiwa hijrah Nabi Muhammad sebagai titik awalnya.

0 Dilihat
0 Komentar

Kolom Komentar & Aspirasi

Sampaikan apresiasi, doa, dan masukan positif untuk kemajuan sekolah.

Disaring Filter Komentar Positif & Kode Captcha

Rekomendasi Terkait

Kategori Sama
Tokoh & Biografi Kategori Sama

Abu Bakar Ash-shiddiq

Abu Bakar Ash-shiddiq memiliki nama asli Abd-Allah ibn Abi Quhafah, lahir sekitar tahun 573 Masehi di Mekah. Ia dikenal sebagai salah satu sahabat terdekat Nabi Muhammad SAW dan merupakan orang pertama dari kalangan pria dewasa yang memeluk Islam (as-sabiqun al-awwalun). Gelar 'Ash-Shiddiq', yang berarti 'Yang Membenarkan' atau 'Yang Jujur', diberikan kepadanya karena keteguhan imannya dan kemampuannya untuk selalu membenarkan ucapan Nabi, terutama saat peristiwa Isra Mikraj. Peran utamanya sangat krusial dalam sejarah awal Islam, di antaranya adalah mendampingi Nabi Muhammad dalam peristiwa Hijrah dari Mekah ke Madinah pada tahun 622 M, di mana ia menunjukkan kesetiaan dan keberanian luar biasa saat bersembunyi di Gua Tsur. Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW pada tahun 632 M, Abu Bakar dibaiat sebagai Khalifah pertama, menandai dimulainya era Khulafaur Rasyidin. Dalam masa kepemimpinannya yang singkat namun penuh tantangan (632-634 M), ia berhasil menyatukan kembali Jazirah Arab melalui serangkaian kampanye militer yang dikenal sebagai Perang Riddah, melawan suku-suku yang membangkang dan menolak membayar zakat setelah wafatnya Nabi. Selain itu, ia juga memprakarsai proyek penting pengumpulan naskah-naskah Al-Qur'an yang tersebar menjadi satu mushaf, menyusul banyaknya penghafal Al-Qur'an yang gugur dalam Perang Yamamah. Ia juga memulai ekspedisi militer ke wilayah Syam (seperti Perang Ajnadayn dan persiapan Perang Yarmuk) yang kelak membuka jalan bagi penaklukan-penaklukan Islam berikutnya. Sebelum wafatnya pada 23 Agustus 634 M (13 Jumada al-Akhirah 13 H) di Madinah, Abu Bakar menunjuk Umar bin Khattab sebagai penggantinya, memastikan kelangsungan kepemimpinan umat. Jenazahnya dimakamkan di samping makam Nabi Muhammad SAW di Masjid Nabawi, Madinah. Kepemimpinannya menjadi fondasi penting bagi stabilitas dan ekspansi awal kekhalifahan Islam, menetapkan preseden bagi administrasi dan kebijakan negara Islam yang baru terbentuk.

Tokoh & Biografi Kategori Sama

Ali bin Abi Thalib

Ali bin Abi Thalib, dengan nama lengkap Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muthalib bin Hasyim, adalah sepupu dan menantu Nabi Muhammad SAW. Beliau lahir sekitar tahun 599 atau 600 Masehi di kota Mekkah. Ali dikenal sebagai salah satu dari empat Khalifah Ar-Rasyidin yang memerintah umat Islam setelah wafatnya Nabi Muhammad, dengan masa kekhalifahan dari tahun 35 H hingga 40 H (656–661 Masehi). Sejak kecil, Ali tumbuh dalam asuhan Nabi Muhammad dan menjadi salah satu orang pertama yang memeluk Islam. Peran historisnya sangat krusial dalam periode awal Islam; beliau turut serta dalam banyak pertempuran penting seperti Perang Badar, Uhud, Khandaq, dan Khaibar, sering kali memegang panji atau memimpin pasukan. Ali juga menunjukkan keberaniannya dengan menggantikan posisi Nabi di ranjang pada malam hijrah ke Madinah (Laylat al-Mabit) untuk mengelabui kaum Quraisy. Setelah terpilih sebagai khalifah keempat melalui bai'at di Madinah pasca terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib memindahkan pusat kekhalifahan ke Kufah, yang saat ini berada di Irak. Masa pemerintahannya diwarnai oleh gejolak politik yang dikenal sebagai Fitnah Kubra, termasuk konflik militer seperti Perang Jamal (656 Masehi) melawan Aisyah dan beberapa sahabat lain, serta Perang Shiffin (657 Masehi) melawan Muawiyah bin Abu Sufyan yang berujung pada tahkim (arbitrase) dan kemudian memunculkan kelompok Khawarij. Ali bin Abi Thalib dikenal memiliki pemahaman mendalam tentang Al-Qur'an dan Sunnah, serta keahliannya dalam ilmu fiqih dan yurisprudensi Islam. Khotbah-khotbah, surat-surat, dan perkataannya yang berisi hikmah dan ajaran etika kemudian banyak dikumpulkan dalam kitab Nahjul Balaghah. Ali bin Abi Thalib wafat pada tanggal 21 Ramadhan 40 H (bertepatan dengan 24 Januari 661 Masehi) setelah diserang oleh Abdurrahman bin Muljam, seorang anggota Khawarij, di Masjid Kufah. Makamnya diyakini berada di An-Najaf, Irak. Sebagai figur sentral dalam sejarah Islam, Ali bin Abi Thalib dihormati secara luas sebagai seorang yang sangat berilmu, pemberani, dan adil. Beliau juga merupakan ayah dari Hasan bin Ali dan Husain bin Ali, yang keduanya memiliki peran penting dalam sejarah Islam selanjutnya, terutama dalam garis keturunan Nabi Muhammad melalui putrinya, Fatimah Az-Zahra.

Tokoh & Biografi Kategori Sama

Hoegeng Iman Santoso

Hoegeng Iman Santoso adalah seorang tokoh kepolisian dan birokrat Indonesia yang lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, pada 14 November 1921 dan wafat di Jakarta pada 14 Juli 2004. Ia menjabat sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) ke-5 dari 9 Mei 1968 hingga 3 Oktober 1971. Sebelum mengemban jabatan Kapolri, Hoegeng menempati berbagai posisi penting, termasuk Kepala Jawatan Imigrasi (1960), Menteri Iuran Negara (1965), dan Menteri/Sekretaris Kabinet Presidium (1966). Pendidikan hukumnya ditempuh di Rechtshoogeschool di Batavia (kini Fakultas Hukum Universitas Indonesia) yang diselesaikannya pada 1942, dan ia juga mengikuti pelatihan polisi di Swedia pada 1952. Selama masa kepemimpinannya sebagai Kapolri, Hoegeng Iman Santoso dikenal karena inisiatifnya dalam melakukan reformasi mendasar di tubuh institusi kepolisian guna memberantas praktik korupsi dan meningkatkan integritas serta profesionalisme anggota. Langkah-langkah konkret yang diambil meliputi penetapan larangan penerimaan hadiah bagi anggota kepolisian, penegakan disiplin yang ketat melalui mekanisme pengawasan internal, dan upaya penyederhanaan birokrasi dalam pelayanan publik seperti penerbitan surat izin mengemudi (SIM) dan surat tanda nomor kendaraan (STNK). Ia secara konsisten menegakkan prinsip transparansi dan akuntabilitas, yang tercermin dalam penanganan kasus-kasus sensitif, seperti kasus Sum Kuning di Yogyakarta pada tahun 1970, di mana ia memastikan proses hukum berjalan sesuai prosedur tanpa intervensi, meskipun melibatkan pihak-pihak dengan pengaruh politik. Integritas pribadinya yang tinggi, yang ditunjukkan melalui gaya hidup sederhana dan penolakannya terhadap praktik suap, menjadikannya ikon kejujuran dan teladan kepemimpinan di Indonesia, yang tetap relevan bahkan setelah masa jabatannya berakhir.

Tokoh & Biografi Kategori Sama

Jendral Sudirman

Jenderal Sudirman, yang nama lengkapnya Raden Soedirman, lahir pada 24 Januari 1916 di Bodas Karangjati, Rembang, Purbalingga, Keresidenan Banyumas. Setelah menempuh pendidikan di HIS Taman Siswa dan MULO di Cilacap, ia sempat berkarier sebagai guru di HIS Muhammadiyah Cilacap dan aktif dalam organisasi kepanduan Hizbul Wathan. Pada masa pendudukan Jepang, Sudirman mengikuti pendidikan militer Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor pada tahun 1943 dan kemudian diangkat sebagai Komandan Batalyon (Daidancho) di Kroya, Banyumas. Pasca Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, ia secara aklamasi terpilih sebagai Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 12 November 1945, yang kemudian bertransformasi menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Sebagai Panglima Besar, Sudirman memimpin langsung pasukan TKR dalam Pertempuran Ambarawa yang berlangsung pada Desember 1945, berhasil mengusir pasukan Sekutu dari wilayah tersebut. Puncak kepemimpinan militernya terlihat jelas selama Agresi Militer Belanda II yang dilancarkan mulai 19 Desember 1948. Meskipun dalam kondisi sakit parah akibat tuberkulosis paru-paru dan harus ditandu, ia menolak untuk menyerah atau berdiam diri di istana, melainkan memilih untuk memimpin perang gerilya selama tujuh bulan di berbagai pelosok Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tindakannya memimpin perjuangan dari hutan dan gunung menjadi simbol perlawanan tak kenal menyerah dan mempertahankan integritas Republik Indonesia di saat para pemimpin sipil ditawan. Setelah perjuangan gerilya yang melelahkan, kondisi kesehatan Jenderal Sudirman terus memburuk secara drastis. Ia wafat pada 29 Januari 1950 di Magelang, Jawa Tengah, hanya beberapa minggu setelah pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda. Atas jasa-jasanya yang luar biasa dalam mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan negara, pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional Indonesia kepadanya berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 314 Tahun 1964 pada 13 Desember 1964. Ia juga dianugerahi pangkat Jenderal Besar TNI secara anumerta dengan lima bintang, menjadikannya salah satu tokoh militer paling dihormati dalam sejarah bangsa Indonesia.

Tokoh & Biografi Kategori Sama

Ki Hadjar Dewantara

Ki Hadjar Dewantara, terlahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat pada tanggal 2 Mei 1889 di Pakualaman, Yogyakarta, adalah seorang tokoh sentral dalam sejarah pendidikan dan pergerakan kemerdekaan Indonesia. Beliau resmi mengganti namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara pada tahun 1922. Pada awal karirnya, ia dikenal sebagai jurnalis dan aktivis pergerakan, aktif dalam organisasi seperti Indische Partij yang didirikannya bersama Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo. Salah satu karya tulisnya yang paling terkenal adalah artikel berjudul "Als Ik Eens Nederlander Was" (Seandainya Aku Seorang Belanda) yang diterbitkan pada tahun 1913, berisi kritik tajam terhadap perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari Prancis yang diselenggarakan di Hindia Belanda, yang menyebabkan pengasingannya ke Belanda. Setelah kembali ke tanah air dari pengasingan, Ki Hadjar Dewantara memfokuskan perjuangannya di bidang pendidikan. Pada tanggal 3 Juli 1922, ia mendirikan Nationaal Onderwijs Instituut Taman Siswa atau Perguruan Nasional Taman Siswa di Yogyakarta, sebuah institusi pendidikan yang bertujuan memberikan pendidikan berbasis kebangsaan kepada pribumi, menentang diskriminasi dan sistem pendidikan kolonial. Melalui Taman Siswa, Ki Hadjar Dewantara mengembangkan filosofi pendidikan khas yang dikenal dengan semboyan "Ing Ngarsa Sung Tuladha" (di depan memberi teladan), "Ing Madya Mangun Karsa" (di tengah membangun kemauan), dan "Tut Wuri Handayani" (di belakang memberi dorongan), yang menjadi prinsip fundamental dalam sistem pendidikan Indonesia. Atas dedikasi dan sumbangsihnya yang besar, Ki Hadjar Dewantara ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 305 Tahun 1959, pada tanggal 28 November 1959. Beliau juga pernah mengemban amanah sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan pertama Republik Indonesia dalam Kabinet Presidensial. Ki Hadjar Dewantara wafat pada tanggal 26 April 1959 di Yogyakarta, dan untuk mengenang jasa-jasanya, tanggal kelahirannya, 2 Mei, diperingati setiap tahun sebagai Hari Pendidikan Nasional di Indonesia.

Tokoh & Biografi Kategori Sama

Mohammad Hatta

Mohammad Hatta lahir pada 12 Agustus 1902 di Bukittinggi, Sumatera Barat, dan wafat pada 14 Maret 1980 di Jakarta. Beliau adalah seorang proklamator kemerdekaan dan Wakil Presiden pertama Republik Indonesia. Hatta menempuh pendidikan di Handels Hogeschool (sekarang Erasmus Universiteit) di Rotterdam, Belanda, sejak tahun 1921. Selama di Belanda, ia aktif dalam organisasi Indische Vereeniging yang kemudian berubah nama menjadi Perhimpunan Indonesia, menjabat sebagai ketua pada tahun 1926. Melalui majalah "Indonesia Merdeka," Hatta secara konsisten menyuarakan tuntutan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda, yang berujung pada penangkapannya oleh otoritas Belanda pada tahun 1927 dan sempat ditahan di Den Haag. Setelah kembali ke Indonesia pada tahun 1932, aktivitas politiknya berlanjut hingga ia diasingkan ke Digul pada tahun 1935 dan kemudian ke Banda Neira oleh pemerintah kolonial Belanda. Peran Mohammad Hatta dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia mencapai puncaknya sebagai Wakil Ketua Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dan bersama Soekarno, secara resmi memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Beliau menjabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia dari tahun 1945 hingga 1956. Selain itu, Hatta memimpin delegasi Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag pada tahun 1949, yang menghasilkan pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda. Hatta dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia, dengan gagasan fundamental mengenai ekonomi kerakyatan yang menjadikan koperasi sebagai soko guru perekonomian bangsa, termaktub dalam bukunya "Beberapa Azas Ekonomi Koperasi". Atas jasa-jasanya, Mohammad Hatta ditetapkan sebagai Pahlawan Proklamator (bersama Soekarno) dan Pahlawan Nasional Indonesia melalui Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 081/TK/Tahun 1986 pada tanggal 23 Oktober 1986.

Tokoh & Biografi Kategori Sama

Nabi Muhammad SAW

Nabi Muhammad SAW adalah tokoh sentral dan pendiri agama Islam, lahir dengan nama Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muttalib bin Hasyim sekitar tahun 570 Masehi di Mekah, Jazirah Arab. Beliau wafat pada 8 Juni 632 Masehi di Madinah, Jazirah Arab. Nabi Muhammad tumbuh sebagai yatim piatu, diasuh kakeknya Abdul Muttalib dan kemudian pamannya Abu Thalib. Sebelum kenabian, beliau dikenal sebagai seorang pedagang yang jujur dan dipercaya, sehingga mendapatkan gelar Al-Amin. Pada tahun 610 Masehi, di Gua Hira, Mekah, Nabi Muhammad menerima wahyu pertamanya dari Allah melalui Malaikat Jibril, yang menandai awal kenabiannya pada usia sekitar 40 tahun. Wahyu-wahyu tersebut secara bertahap dihimpun menjadi kitab suci Al-Quran. Setelah menerima wahyu, Nabi Muhammad memulai dakwah Islam secara sembunyi-sembunyi dan kemudian terang-terangan di Mekah selama sekitar 13 tahun. Dakwahnya menghadapi penolakan dan penganiayaan dari kaum Quraisy Mekah. Peristiwa penting pada periode Mekah termasuk Isra' Mi'raj, sebuah perjalanan spiritual yang dialaminya. Pada tahun 622 Masehi, Nabi Muhammad bersama para pengikutnya berhijrah dari Mekah ke Yatsrib, yang kemudian dikenal sebagai Madinah. Peristiwa Hijrah ini menandai dimulainya kalender Islam (Hijriyah) dan menjadi titik balik dalam penyebaran Islam. Di Madinah, beliau tidak hanya berperan sebagai pemimpin agama, tetapi juga sebagai pemimpin politik dan militer yang membangun Piagam Madinah, sebuah konstitusi yang mengatur kehidupan multietnis dan multi-agama, serta mendirikan negara kota Islam pertama. Periode Madinah ditandai oleh beberapa peristiwa penting, termasuk Perang Badar (624 M), Perang Uhud (625 M), dan Perang Khandaq (627 M) yang merupakan konflik antara umat Islam dan suku-suku Mekah serta sekutunya. Pada tahun 628 Masehi, tercapai Perjanjian Hudaibiyah, sebuah gencatan senjata krusial dengan kaum Quraisy Mekah. Perjanjian ini membuka jalan bagi Fathu Mekah (Penaklukan Mekah) pada tahun 630 Masehi, di mana Mekah berhasil dikuasai tanpa pertumpahan darah signifikan, dan Ka'bah dibersihkan dari berhala. Dua tahun kemudian, pada tahun 632 Masehi, Nabi Muhammad melaksanakan Haji Wada' atau Haji Perpisahan, di mana beliau menyampaikan khotbah terakhirnya yang menggarisbawahi prinsip-prinsip universal Islam. Sebagai pembawa risalah, beliau meninggalkan warisan berupa ajaran monoteisme (tauhid), keadilan sosial, dan kode etik kehidupan yang membentuk peradaban Islam.

Tokoh & Biografi Kategori Sama

Pengeran Antasari

Pangeran Antasari, dengan nama lahir Gusti Inu Kartapati, lahir pada tahun 1809 di Kayu Tangi, Kesultanan Banjar, wilayah yang kini merupakan bagian dari Kalimantan Selatan. Beliau wafat pada tanggal 11 Oktober 1862 di pedalaman Sungai Barito, tepatnya di Bayan Begok, Kalimantan Tengah, akibat penyakit cacar. Pangeran Antasari dikenal luas sebagai pemimpin utama dalam Perang Banjar, sebuah konflik bersenjata besar melawan kolonial Belanda yang berlangsung dari tahun 1859 hingga 1862. Konflik ini dipicu oleh intervensi Belanda dalam suksesi Kesultanan Banjar dan eksploitasi sumber daya alam seperti batubara. Pangeran Antasari, sebagai salah satu pewaris sah takhta Kesultanan Banjar dan sepupu Sultan Adam, menolak keras penetapan Sultan Tamjidullah II oleh Belanda serta kebijakan-kebijakan kolonial yang merugikan rakyat. Selama Perang Banjar, Pangeran Antasari memimpin perlawanan gerilya yang gigih di berbagai wilayah, mulai dari Martapura, Banjar Lama, hingga daerah pedalaman Hulu Sungai dan Barito. Pada 14 Maret 1862, beliau mendeklarasikan diri sebagai Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin, sebuah gelar yang menegaskan kepemimpinannya dalam perjuangan agama dan politik. Semboyan perjuangannya yang terkenal adalah "Haram Manyarah Waja Sampai Kaputing," yang berarti pantang menyerah hingga titik darah penghabisan atau sampai akhir. Meskipun wafat di tengah perjuangan, semangat perlawanannya diteruskan oleh para pengikutnya. Atas jasa-jasanya dalam mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan bangsa, Pangeran Antasari secara anumerta dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 06/TK/1965 pada tanggal 27 Maret 1965.