SD Negeri Tampojung Tengah
Dusun Tengah Desa Tampojung Tengah, Kecamatan Waru, Kabupaten Pamekasan 69353, Kec. Waru, Kab. Pamekasan, Jawa Timur
Identitas & Legalitas Sekolah
Resmi KementerianData Identitas Utama
Legalitas & Akreditasi
Kelembagaan Perpustakaan & Kepramukaan
Rumah Ilmuan
NPP: 3528101B1000004
-
No. Gudep: -
-
No. Gudep: -
Jam Operasional
Jadwal Layanan Resmi SekolahVisi Sekolah
Misi Sekolah
Meningkatkan Iman dan Taqwa, Akhlak Mulia Menjadi Dasar Pembentukan Kepribadian Peserta Didik Secara Utuh
Mengoptimalkan proses pembelajaran yang menantang,
menyenangkan, komunikatif, dan demokratis dengan multi strategi dan multi media.
Membiasakan Berperilaku Disiplin Bagi Semua Warga Sekolah
Mengembangkan kurikulum Merdeka sesuai Standar Nasinonal Pendidikan.
Mengoptimalkan program Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila.
Mengoptimalkan proses dan sistem penilaian.
Membiasakan Bersikap Sopan dan Ramah Terhadap Sesama
Menekan angka dan meminimalisir pembuliyan
Melayani siswa/siswa yang menyandang iklusif
Menciptakan lingkungan sekolah yang bersih, aman, rapi, bersih, teduh / rindang dan indah
Meningkatkan Prestasi Akademik dan Non Akademik
Meningkatkan Prestasi siswa dan guru yang berkomtitif
Menciptakan dan Melaksanakan Pembelajaran yang Inovatif Bernuansa PAKEM ( Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan )
Meningkatkan menejemen sekolah yang demokratis, transparan, dan akuntabilitas.
Mengembangkan budaya hidup bersih, sehat, gemar membaca, rasa ingin tahu, bertoleransi, bekerja sama, saling menghargai, disiplin, jujur, kerja keras, kreatif, dan mandiri.
Sejarah Singkat Sekolah
Jejak PerjalananPada awal berdirinya, sekolah ini memfokuskan diri pada pembangunan fondasi karakter siswa dan pemenuhan delapan Standar Nasional Pendidikan (SNP). Komitmen tersebut membuahkan hasil positif ketika lembaga ini berhasil meraih Akreditasi B, yang membuktikan bahwa kualitas manajemen dan mutu pengajarannya telah diakui secara nasional. Seiring berjalannya waktu, sekolah ini terus adaptif terhadap dinamika kurikulum, bertransisi dari kurikulum konvensional hingga kini mengadopsi Kurikulum Merdeka.
Lompatan sejarah terbesar SD Negeri Tampojung Tengah terjadi pada era kepemimpinan kepala sekolah Mohammad Faroid. Di bawah arahannya, sekolah ini keluar dari zona nyaman pendidikan tradisional dan meluncurkan program Transformasi Sekolah Digital. Inovasi ini mengubah wajah sekolah secara drastis melalui digitalisasi layanan, mulai dari peluncuran situs web resmi, penerapan e-library (perpustakaan digital), hingga sistem presensi mandiri siswa berbasis QR code. Melalui rekam jejak tersebut, SD Negeri Tampojung Tengah sukses bertransformasi dari sekolah desa biasa menjadi salah satu pionir sekolah dasar berbasis teknologi di Kabupaten Pamekasan.
RKJM (Jangka Menengah)
Rencana Kerja Jangka Menengah (RKJM)
Rencana strategis sekolah untuk periode 4 tahun ke depan meliputi peningkatan mutu lulusan, optimalisasi sarana prasarana digital, serta penguatan kompetensi guru secara berkelanjutan.
RKT (Rencana Kerja Tahunan)
Rencana Kerja Tahunan (RKT)
Rencana operasional tahun ajaran berjalan fokus pada implementasi Kurikulum Merdeka secara penuh, digitalisasi rapor hasil belajar, dan revitalisasi laboratorium komputer sekolah.
Lokasi & Informasi Kontak
Layanan InformasiAlamat Lengkap
SD Negeri Tampojung Tengah
Dusun Tengah Desa Tampojung Tengah, Kecamatan Waru, Kabupaten Pamekasan 69353
Dusun/Desa Tampojung Tengah, RT/RW 00
Kecamatan Waru, Kabupaten/Kota Pamekasan
Provinsi Jawa Timur - Kode Pos: 69353
Kontak Resmi
Media Sosial
Peta Posisi Geografis -6.99391088, 113.55936020
Publikasi & Berita Terbaru Sekolah
Semarak HUT RI ke-81: SDN Tampojung Tengah Pamekasan Sukses Jadi Tuan Rumah Lomba Pioniring dan Semapur Se-Kecamatan Waru
WARU, PAMEKASAN — Halaman SD Negeri Tampojung Tengah berubah menjadi lautan seragam cokelat pada Kamis, 27 Agustus 2026. Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia, sekolah ini dipercaya menjadi pusat pelaksanaan Lomba Pramuka Sekolah Dasar se-Kecamatan Waru, Kabupaten Pamekasan. Ratusan Pramuka Penggalang dari berbagai penjuru kecamatan berkumpul dengan penuh antusiasme untuk menguji ketangkasan, ketelitian, dan kerja sama tim melalui dua cabang perlombaan unggulan: pioniring dan semapur.Suasana riuh penuh semangat terpancar sejak pagi hari. Sorak yel-yel yang membakar semangat terdengar bersahut-sahutan, menciptakan atmosfer kompetisi yang sehat sekaligus penuh persaudaraan. Penunjukan SDN Tampojung Tengah sebagai tuan rumah menjadi momen membanggakan, mengingat kesiapan fasilitas dan lokasinya yang strategis untuk menampung ratusan peserta serta pendamping dari belasan sekolah dasar di wilayah Kecamatan Waru.Menyulap Halaman Sekolah Menjadi Arena Pembelajaran KarakterTerpilihnya SD Negeri Tampojung Tengah sebagai tuan rumah bukan tanpa alasan. Lapangan sekolah yang luas serta dukungan penuh dari pihak sekolah, komite, dan masyarakat sekitar menjadi pertimbangan utama panitia HUT RI Kecamatan Waru. Sejak beberapa hari sebelum acara, persiapan matang telah dilakukan untuk memastikan arena lomba aman, nyaman, dan kondusif bagi para peserta muda.Kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk memeriahkan hari kemerdekaan bangsa, tetapi juga dirancang sebagai wadah pembentukan karakter murid. Pramuka mengajarkan nilai kebersamaan, kemandirian, dan ketahanan mental—hal-hal yang sangat relevan dengan penguatan Profil Pelajar Pancasila di era modern saat ini.Lebih dari Sekadar Lomba: Mengasah Kecerdasan Spasial dan Komunikasi VisualDua cabang yang dipertandingkan dalam ajang ini, yaitu pioniring (tali-temali) dan semapur (isyarat bendera), memiliki dimensi edukatif dan perkembangan saraf motorik yang sangat kaya bagi anak usia sekolah dasar.Pada cabang pioniring, para peserta ditantang untuk merangkai tongkat bambu dan tali menjadi struktur bangunan tangguh seperti tiang bendera kreatif, menara pandang, hingga jembatan miniatur. Dari sudut pandang sains populer, kegiatan ini mengasah kecerdasan spasial dan pemahaman dasar mekanika fisika anak. Murid diajak memperhitungkan titik tumpu, kekuatan simpul, serta distribusi beban agar bangunan tidak roboh. Kerja sama antaranggota regu menjadi kunci utama; satu simpul yang kendur dapat memengaruhi kestabilan seluruh struktur.Sementara itu, lomba semapur menyajikan ketegangan yang tak kalah seru. Menggunakan sepasang bendera berwarna merah-kuning, para utusan regu bertugas mengirim dan menerjemahkan pesan rahasia dari jarak jauh. Cabang ini secara ilmiah melatih koordinasi motorik cepat, ketajaman visual, dan fokus konsentrasi tinggi. Otak anak dilatih untuk menerjemahkan sudut gerakan tangan menjadi huruf-huruf verbal secara instan di bawah tekanan waktu, sebuah latihan yang sangat baik untuk melatih ketangkasan kognitif.blockquote>"Pramuka adalah arena nyata di mana teori kerja sama dan problem solving diuji langsung di lapangan. Melihat anak-anak begitu cekatan mengikat simpul dan mengibarkan bendera semapur dengan presisi membuktikan bahwa semangat kemerdekaan hidup dalam jiwa generasi muda kita. Kami bangga SDN Tampojung Tengah bisa menjadi saksi lahirnya tunas-tunas bangsa yang tangguh ini," ungkap salah satu perwakilan panitia penyelenggara di sela-sela acara.Ringkasan:Peristiwa: Lomba Pramuka Penggalang (Pioniring dan Semapur) Semarak HUT RI ke-81.Waktu Pelaksanaan: Kamis, 27 Agustus 2026.Lokasi Utama: SD Negeri Tampojung Tengah, Kecamatan Waru, Kabupaten Pamekasan.Peserta: Perwakilan regu Pramuka SD se-Kecamatan Waru.Fokus Pembelajaran: Kecerdasan spasial, ketangkasan motorik, komunikasi visual, dan penguatan karakter gotong royong.Dampak Positif dan Harapan Masa DepanPelaksanaan lomba pramuka ini sukses memberikan kesan mendalam, tidak hanya bagi para peserta yang bertanding, tetapi juga bagi warga sekolah dan masyarakat di sekitar SDN Tampojung Tengah. Kegembiraan, kebersamaan, dan sportivitas yang ditunjukkan sepanjang hari menunjukkan bahwa kegiatan ekstrakurikuler kepramukaan tetap menjadi sarana yang sangat efektif dan menyenangkan untuk mendidik generasi muda.Melalui suksesnya acara ini, SD Negeri Tampojung Tengah membuktikan komitmennya untuk tidak hanya unggul dalam kegiatan akademik di dalam kelas, tetapi juga aktif menjadi pusat kegiatan pembinaan karakter anak di tingkat kecamatan. Diharapkan semangat pantang menyerah yang ditunjukkan para peserta dalam lomba pioniring dan semapur ini terus terbawa dalam kehidupan sehari-hari mereka sebagai pelajar penerus masa depan bangsa.
Di Luar Semarak Lomba Tujuh Belasan: Kapan Anak-Anak Kita Benar-Benar Merdeka Belajar?
Suasana bulan Agustus selalu menyuguhkan pemandangan yang serupa di penjuru negeri: umbul-umbul merah putih berkibar gagah, gelak tawa anak-anak pecah saat mengikuti lomba makan kerupuk, dan lapangan sekolah dipenuhi keriuhan latihan baris-berbaris. Semua tampak semarak, penuh rasa bangga, dan seolah menggambarkan kebebasan yang hakiki. Namun, begitu pesta usai dan sorak-sorai mereda, ada sebuah pemandangan kontras yang sering kali luput dari perhatian kita: anak-anak kembali duduk di bangku kelas dengan ransel berat yang membebani bahu mungil mereka, menatap papan tulis dengan tatapan lelah, dan bersiap menghadapi himpitan target nilai yang menumpuk.Di tengah perayaan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia tahun ini, sebuah pertanyaan mendasar kembali mengetuk pintu kesadaran kita sebagai orang tua dan pendidik: apakah anak-anak kita sudah benar-benar merdeka saat mereka belajar, ataukah kemerdekaan itu baru sebatas seremonial tahunan di halaman sekolah?Menatap Kemerdekaan dari Bangku SekolahJika kita mencermati perspektif kemerdekaan RI tahun ini, esensi dari kata "merdeka" seharusnya bukan sekadar terbebas dari penjajahan fisik di masa lalu, melainkan terbebasnya potensi manusia dari belenggu rasa takut, rasa tertekan, dan keseragaman yang mematikan ide. Sayangnya, fenomena di banyak ruang kelas kita kerap kali menunjukkan hal sebaliknya. Belajar masih sering dipersepsikan sebagai sebuah kewajiban yang menakutkan, bukan sebuah petualangan menakjubkan yang memantik rasa ingin tahu.Bayangkan belajar seperti perjalanan menelusuri taman bunga yang luas. Dalam kondisi ideal, seorang anak akan menjelajah dengan riang, memegang kelopak bunga yang ia sukai, dan bertanya mengapa warna daun bisa berbeda-beda. Namun, sistem yang terlalu kaku kerap kali memagari taman itu secara berlebihan. Anak-anak dituntut berjalan di garis yang sama, menghafal nama ilmiah bunga tanpa pernah mencium aromanya, dan merasa bersalah jika berbelok sedikit saja dari rute baku. Ketika kebebasan bereksplorasi dirampas, rasa ingin tahu alami anak lambat laun padam, berganti dengan rasa cemas akan kegagalan.Kemerdekaan dalam belajar juga bukan berarti membiarkan anak tumbuh tanpa arah. Kemerdekaan sejati adalah ketika proses tumbuh kembang anak dihargai secara utuh. Setiap anak terlahir dengan ritme dan keunikan mereka masing-masing. Ada anak yang cepat memahami angka, ada yang luwes merangkai kata, dan ada pula yang jemarinya terampil menciptakan karya seni. Memaksa mereka untuk melompat dengan tinggi yang sama pada waktu yang sama ibarat meminta ikan untuk memanjat pohon—sebuah tindakan yang merenggut rasa percaya diri dan kemerdekaan dalam diri mereka.Langkah Nyata Menghadirkan Kemerdekaan Belajar yang HakikiMembebaskan anak dari belenggu kelelahan mental dalam belajar membutuhkan pergeseran paradigma bersama, baik dari pihak sekolah maupun dari meja makan di rumah. Kita tidak perlu menunggu perubahan besar secara instan; langkah-langkah kecil dan nyata justru sering kali membawa dampak yang paling dalam.Mendorong Pertanyaan, Bukan Hanya Menagih Jawaban: Kelas yang merdeka adalah kelas yang kaya akan pertanyaan unik anak-anak. Guru dan orang tua perlu membiasakan diri mengapresiasi keberanian anak dalam bertanya, ketimbang hanya menilai kebenaran jawaban akhir mereka.Mengubah Nilai Angka Menjadi Narasi Tumbuh Kembang: Nilai ujian hanyalah potret sesaat dari satu dimensi kemampuan anak. Sudah saatnya kita lebih banyak merayakan proses, ketekunan, dan kebaikan sikap yang ditunjukkan anak sepanjang jalannya belajar.Menciptakan Ruang Aman untuk Berbuat Salah: Kegagalan adalah bagian paling alami dari proses belajar. Ketika anak merasa aman untuk membuat kesalahan tanpa takut dihakimi atau diejek, di situlah rasa percaya diri dan kemerdekaan berpikirnya akan mekar dengan indah.Memberikan Ruang Pilihan pada Anak: Biarkan anak memilih topik bacaan, metode menyelesaikan tugas, atau gaya belajar yang paling nyaman bagi mereka. Pilihan-pilihan kecil ini melatih mereka menjadi pemilik atas pendidikan mereka sendiri."Kemerdekaan belajar tidak pernah diukur dari seberapa sedikit tugas yang diberikan, melainkan dari seberapa besar binar bahagia di mata anak saat mereka menemukan hal baru dan menyadari potensi luar biasa dalam diri mereka."Menyemai Masa Depan yang Sungguh MerdekaMemaknai kemerdekaan dalam perspektif Indonesia hari ini menuntut kita untuk melihat anak-anak bukan sebagai wadah kosong yang harus diisi penuh dengan hafalan, melainkan sebagai tunas-tunas muda yang siap mekar dengan warnanya sendiri. Tugas kita sebagai pendidik dan orang tua bukanlah memaksakan arah tumbuh mereka, melainkan menyediakan tanah yang subur, menyiramnya dengan kasih sayang, dan memberi cukup ruang udara agar mereka bisa menjulang tinggi mencapai cita-citanya.Mari kita jadikan momentum perayaan kemerdekaan kali ini sebagai titik balik. Di luar keriuhan lomba dan kemeriahan pawai, mari kita berikan hadiah terindah bagi anak-anak Indonesia: sebuah ekosistem belajar yang memerdekakan jiwa, menutrisi rasa ingin tahu, dan memeluk keunikan mereka dengan penuh rasa hormat. Sebab dari sanalah, masa depan bangsa yang benar-benar merdeka akan lahir.
Menyemai Karakter Tangguh dan Kebersamaan: Keseruan Ekstrakurikuler Pramuka Murid Kelas 4-6
Sinar matahari pagi yang hangat menyapu halaman sekolah pada Sabtu, 08 Agustus 2026. Diiringi hembusan angin segar, tawa riang dan gemerisik seragam cokelat pramuka mulai memadati area lapangan. Hari Sabtu bukan sekadar penutup pekan pembelajaran di dalam kelas, melainkan momen yang paling ditunggu-tunggu oleh para murid kelas 4, 5, dan 6. Tepat pukul 07.30 WIB, peluit panjang ditiup, menandai dimulainya kegiatan ekstrakurikuler pramuka yang menjadi agenda rutin pembentukan karakter peserta didik.Kegiatan pramuka kali ini mengusung atmosfer yang penuh energi, keterbukaan, dan rasa kekeluargaan. Setiap minggunya, program ini dirancang tidak hanya untuk mengasah keterampilan teknis kepramukaan, tetapi juga sebagai ruang tumbuh bagi anak-anak untuk mengeksplorasi potensi diri, mengikis rasa minder, serta memupuk semangat gotong royong sejak dini. Terlihat jelas raut wajah antusias dari para penggalang muda ini saat mereka berkumpul berdasarkan regu masing-masing dengan membawa perlengkapan latihan.Dari Apel Pembuka Hingga Pos Ketangkasan: Dinamika Sabtu Penuh WarnaLatihan diawali dengan Upacara Pembukaan Latihan Penggalang yang berlangsung khidmat namun tetap hangat. Para murid berdiri tegap dalam barisan, melatih kedisiplinan dan rasa hormat melalui prosesi penghormatan bendera serta pengucapan Dasa Darma Pramuka. Suasana yang semula tenang berangsur menjadi riuh penuh kegembiraan ketika memasuki sesi pembagian pos materi dan permainan kelompok.Pada Sabtu pagi ini, materi difokuskan pada pemantapan teknik tali-temali (pionering) dan sandi semaphore secara interaktif. Berbeda dari metode ceramah yang kaku, para pembina pramuka mengemas latihan menjadi permainan kompetisi antar-regu. Murid kelas 4 yang baru menyesuaikan diri tampak belajar dengan teliti dari senior mereka di kelas 5 dan 6. Kerja sama lintas kelas ini secara alami menciptakan ikatan persahabatan yang erat, di mana yang lebih tua belajar memimpin dan membimbing, sementara yang lebih muda belajar menyimak dan berkolaborasi.Tawa pecah ketika regu-regu berlomba mendirikan tiang bendera portabel menggunakan tongkat dan tali mami. Gelak tawa dan teriakan menyemangati terdengar saling bersahutan. Tidak ada raut takut salah; yang ada hanyalah semangat untuk mencoba kembali ketika simpul yang dibuat kurang kuat. Dinamika ini memperlihatkan bagaimana proses belajar yang menyenangkan mampu menyerap perhatian anak secara totalitas tanpa tekanan.Lebih dari Sekadar Baris-Berbaris: Nilai Karakter di Balik Seragam CokelatSecara ilmiah dalam dunia pendidikan dasar, aktivitas luar ruang yang berbasis kelompok seperti pramuka memiliki peranan vital dalam merangsang kecerdasan emosional (EQ) dan keterampilan sosial anak. Lewat setiap simpul tali yang diikat dan setiap langkah kaki yang diselaraskan, ada nilai-nilai kehidupan mendasar yang sedang ditanamkan ke dalam sanubari para murid.Kemandirian dan Kedisiplinan: Murid dilatih untuk mengelola perlengkapan pribadi, hadir tepat waktu, serta bertanggung jawab terhadap tugas kelompok tanpa harus selalu bergantung pada arahan guru atau orang tua.Kerja Sama dan Kepemimpinan: Melalui sistem beranting dalam regu, setiap anak mendapatkan kesempatan merasakan peran sebagai pemimpin regu (pinru) maupun anggota yang mendukung, sehingga mengasah kepekaan empati dan komunikasi efektif.Ketahanan Mental dan Problem Solving: Ketika menghadapi tantangan permainan atau memecahkan sandi yang rumit, murid diajak untuk berpikir kritis, tidak cepat menyerah, dan mencari solusi secara bersama-sama.Kepedulian Lingkungan dan Sosial: Kegiatan selalu diakhiri dengan aksi 'Opsih' (operasi bersih), di mana para murid bersama-sama merapikan kembali halaman sekolah, menumbuhkan rasa cinta terhadap kebersihan lingkungan sekitar.Kesan dan Hangatnya Suasana LatihanKeseruan dan manfaat dari kegiatan rutin ini dirasakan langsung oleh para peserta maupun pembina yang mendampingi sepanjang acara."Aku paling suka pas latihan tali-temali bareng regu. Awalnya susah bikin simpul pangkal, tapi dibantu sama Kakak kelas 6 sampai bisa. Hari Sabtu jadi hari yang paling seru karena bisa main sambil belajar di luar kelas!"— Aisyah, Murid Kelas 4."Pramuka adalah wahana edukasi yang sangat alami. Di sini kita tidak hanya mengajarkan materi kepramukaan, tetapi betul-betul membentuk fondasi karakter anak: kejujuran, kepedulian, dan ketangguhan. Melihat perkembangan anak-anak yang semakin percaya diri dan mandiri setiap minggunya adalah kebanggaan terbesar bagi kami para pendidik."— Kak Ahmad, Pembina Pramuka Sekolah.Menjaga Semangat Keberlanjutan Momen PositifLatihan rutin ekstrakurikuler pramuka yang berakhir menjelang siang hari ini ditutup dengan tancap bendera dan doa bersama. Wajah-wajah lelah para murid terbayarkan oleh rasa puas, kebanggaan, dan tawa yang masih tersisa. Mereka pulang membawa cerita baru untuk dibagikan kepada orang tua di rumah.Keberhasilan pelaksanaan kegiatan rutin pada Sabtu, 08 Agustus 2026 ini menjadi bukti nyata komitmen sekolah dalam menghadirkan pendidikan yang seimbang antara pencapaian akademik dan pembentukan karakter kepribadian. Semoga semangat Dasa Darma yang telah dipraktikkan hari ini terus mekar dalam kehidupan sehari-hari para murid, menjadikan mereka pribadi yang tidak hanya cerdas di atas kertas, tetapi juga tangguh, peduli, dan berkarakter mulia di tengah masyarakat.