✨ Selamat Datang di Website Resmi SD Negeri Tampojung Tengah | 📅 Sinkronisasi Waktu... | 📞 Kontak: - / sdnegeritampojungtengah@gmail.com
Beranda
Kamus Istilah Digital Terpadu

E-Dictionary & Ensiklopedia Istilah Sekolah

Pusat referensi perbendaharaan kata, istilah sains, sastra, matematika, serta panduan gerakan Bahasa Isyarat (Inklusi) penunjang akselerasi pemahaman belajar peserta didik.

Kolom Pencarian Istilah

Cari istilah dalam kamus sekolah berdasarkan kata kunci atau kategori.

Tokoh & Biografi

Abu Bakar Ash-shiddiq

Abu Bakar Ash-shiddiq memiliki nama asli Abd-Allah ibn Abi Quhafah, lahir sekitar tahun 573 Masehi di Mekah. Ia dikenal sebagai salah satu sahabat terdekat Nabi Muhammad SAW dan merupakan orang pertama dari kalangan pria dewasa yang memeluk Islam (as-sabiqun al-awwalun). Gelar 'Ash-Shiddiq', yang berarti 'Yang Membenarkan' atau 'Yang Jujur', diberikan kepadanya karena keteguhan imannya dan kemampuannya untuk selalu membenarkan ucapan Nabi, terutama saat peristiwa Isra Mikraj. Peran utamanya sangat krusial dalam sejarah awal Islam, di antaranya adalah mendampingi Nabi Muhammad dalam peristiwa Hijrah dari Mekah ke Madinah pada tahun 622 M, di mana ia menunjukkan kesetiaan dan keberanian luar biasa saat bersembunyi di Gua Tsur. Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW pada tahun 632 M, Abu Bakar dibaiat sebagai Khalifah pertama, menandai dimulainya era Khulafaur Rasyidin. Dalam masa kepemimpinannya yang singkat namun penuh tantangan (632-634 M), ia berhasil menyatukan kembali Jazirah Arab melalui serangkaian kampanye militer yang dikenal sebagai Perang Riddah, melawan suku-suku yang membangkang dan menolak membayar zakat setelah wafatnya Nabi. Selain itu, ia juga memprakarsai proyek penting pengumpulan naskah-naskah Al-Qur'an yang tersebar menjadi satu mushaf, menyusul banyaknya penghafal Al-Qur'an yang gugur dalam Perang Yamamah. Ia juga memulai ekspedisi militer ke wilayah Syam (seperti Perang Ajnadayn dan persiapan Perang Yarmuk) yang kelak membuka jalan bagi penaklukan-penaklukan Islam berikutnya. Sebelum wafatnya pada 23 Agustus 634 M (13 Jumada al-Akhirah 13 H) di Madinah, Abu Bakar menunjuk Umar bin Khattab sebagai penggantinya, memastikan kelangsungan kepemimpinan umat. Jenazahnya dimakamkan di samping makam Nabi Muhammad SAW di Masjid Nabawi, Madinah. Kepemimpinannya menjadi fondasi penting bagi stabilitas dan ekspansi awal kekhalifahan Islam, menetapkan preseden bagi administrasi dan kebijakan negara Islam yang baru terbentuk.

Kamus SD SDN Tampojung Tengah Baca Detail
Teknologi & Komputer

Algoritma

Algoritma adalah serangkaian instruksi atau prosedur yang terdefinisi dengan baik, berhingga, dan tidak ambigu, yang dirancang untuk menyelesaikan suatu masalah komputasi tertentu atau mencapai suatu tujuan yang spesifik. Istilah ini berasal dari nama matematikawan Persia abad ke-9, Muhammad ibn Musa al-Khwarizmi (sekitar 780–850 M), yang karyanya "Kitab al-Jabr wa al-Muqabala" (dari mana kata "aljabar" berasal) serta "Algorithmi de numero Indorum" (tentang sistem angka Hindu-Arab) memperkenalkan konsep desimal dan metode perhitungan sistematis ke dunia Barat. Karakteristik kunci algoritma meliputi: keterhinggaan (harus berakhir setelah jumlah langkah yang terbatas), ketepatan (setiap langkah harus jelas dan tidak ambigu), input (menerima nol atau lebih nilai awal), output (menghasilkan satu atau lebih nilai hasil), dan efektivitas (setiap instruksi harus dapat dilaksanakan secara fisik dalam waktu yang terbatas). Dalam konteks Teknologi & Komputer, algoritma menjadi fondasi bagi semua perangkat lunak dan proses komputasi. Algoritma menentukan cara kerja program komputer, mulai dari tugas sederhana seperti mengurutkan daftar angka (misalnya, algoritma Bubble Sort atau Merge Sort) hingga operasi kompleks seperti pencarian data (misalnya, algoritma Binary Search), enkripsi informasi (misalnya, AES atau RSA), dan pemrosesan gambar. Setiap instruksi dalam algoritma harus cukup dasar untuk dapat dieksekusi oleh mesin komputasi secara presisi. Desain, analisis, dan efisiensi algoritma merupakan disiplin inti dalam ilmu komputer, yang melibatkan penilaian kinerja algoritma berdasarkan waktu dan ruang memori yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas. Penerapan praktis algoritma sangat luas dan meresap dalam kehidupan modern. Algoritma digunakan dalam mesin pencari daring untuk menentukan relevansi hasil penelusuran, dalam platform media sosial untuk mempersonalisasi umpan berita pengguna, dalam sistem navigasi GPS untuk menemukan rute tercepat, dalam perbankan dan perdagangan keuangan untuk mengotomatiskan transaksi, serta dalam berbagai aplikasi kecerdasan buatan seperti pengenalan wajah, penerjemahan bahasa, dan rekomendasi produk. Tanpa algoritma, kemampuan komputer untuk memproses informasi, memecahkan masalah, dan mengotomatiskan tugas akan sangat terbatas, menjadikannya pilar esensial dalam pengembangan teknologi dan kemajuan digital.

Kamus SD SDN Tampojung Tengah Baca Detail
Tokoh & Biografi

Ali bin Abi Thalib

Ali bin Abi Thalib, dengan nama lengkap Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muthalib bin Hasyim, adalah sepupu dan menantu Nabi Muhammad SAW. Beliau lahir sekitar tahun 599 atau 600 Masehi di kota Mekkah. Ali dikenal sebagai salah satu dari empat Khalifah Ar-Rasyidin yang memerintah umat Islam setelah wafatnya Nabi Muhammad, dengan masa kekhalifahan dari tahun 35 H hingga 40 H (656–661 Masehi). Sejak kecil, Ali tumbuh dalam asuhan Nabi Muhammad dan menjadi salah satu orang pertama yang memeluk Islam. Peran historisnya sangat krusial dalam periode awal Islam; beliau turut serta dalam banyak pertempuran penting seperti Perang Badar, Uhud, Khandaq, dan Khaibar, sering kali memegang panji atau memimpin pasukan. Ali juga menunjukkan keberaniannya dengan menggantikan posisi Nabi di ranjang pada malam hijrah ke Madinah (Laylat al-Mabit) untuk mengelabui kaum Quraisy. Setelah terpilih sebagai khalifah keempat melalui bai'at di Madinah pasca terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib memindahkan pusat kekhalifahan ke Kufah, yang saat ini berada di Irak. Masa pemerintahannya diwarnai oleh gejolak politik yang dikenal sebagai Fitnah Kubra, termasuk konflik militer seperti Perang Jamal (656 Masehi) melawan Aisyah dan beberapa sahabat lain, serta Perang Shiffin (657 Masehi) melawan Muawiyah bin Abu Sufyan yang berujung pada tahkim (arbitrase) dan kemudian memunculkan kelompok Khawarij. Ali bin Abi Thalib dikenal memiliki pemahaman mendalam tentang Al-Qur'an dan Sunnah, serta keahliannya dalam ilmu fiqih dan yurisprudensi Islam. Khotbah-khotbah, surat-surat, dan perkataannya yang berisi hikmah dan ajaran etika kemudian banyak dikumpulkan dalam kitab Nahjul Balaghah. Ali bin Abi Thalib wafat pada tanggal 21 Ramadhan 40 H (bertepatan dengan 24 Januari 661 Masehi) setelah diserang oleh Abdurrahman bin Muljam, seorang anggota Khawarij, di Masjid Kufah. Makamnya diyakini berada di An-Najaf, Irak. Sebagai figur sentral dalam sejarah Islam, Ali bin Abi Thalib dihormati secara luas sebagai seorang yang sangat berilmu, pemberani, dan adil. Beliau juga merupakan ayah dari Hasan bin Ali dan Husain bin Ali, yang keduanya memiliki peran penting dalam sejarah Islam selanjutnya, terutama dalam garis keturunan Nabi Muhammad melalui putrinya, Fatimah Az-Zahra.

Kamus SD SDN Tampojung Tengah Baca Detail
Matematika

Bilangan

Bilangan adalah sebuah konsep fundamental dalam matematika yang berfungsi sebagai alat abstrak untuk menghitung, mengukur, dan melabeli kuantitas. Secara formal, bilangan didefinisikan sebagai entitas matematis yang dapat digunakan dalam operasi aritmetika dan aljabar. Evolusi konsep bilangan bermula dari kebutuhan dasar manusia akan penghitungan objek diskrit, yang kemudian berkembang menjadi sistem yang lebih kompleks untuk merepresentasikan magnitudo, urutan, dan hubungan kuantitatif. Struktur dasar bilangan mencakup himpunan bilangan asli (seperti 1, 2, 3...), yang awalnya digunakan untuk mencacah; bilangan bulat (seperti -1, 0, 1...), yang menambahkan representasi untuk ketiadaan dan kuantitas negatif; bilangan rasional (seperti 1/2, 0.75), yang menyatakan perbandingan dan pecahan; serta bilangan real (mencakup semua bilangan rasional dan irasional seperti pi atau akar kuadrat dari 2), yang mengisi garis bilangan secara kontinu. Bilangan diklasifikasikan berdasarkan sifat dan operasi yang dapat diterapkannya. Himpunan bilangan asli (N) dapat didefinisikan sebagai {1, 2, 3, ...} atau {0, 1, 2, 3, ...} tergantung konvensi, di mana operasi dasar penjumlahan dan perkalian berlaku dan bersifat tertutup. Bilangan bulat (Z) adalah ekstensi dari bilangan asli yang mencakup nol dan bilangan negatif, memenuhi sifat tertutup terhadap penjumlahan, pengurangan, dan perkalian. Bilangan rasional (Q) adalah bilangan yang dapat diekspresikan dalam bentuk a/b, di mana a adalah bilangan bulat dan b adalah bilangan bulat bukan nol, dan merupakan himpunan tertutup untuk keempat operasi aritmetika dasar (kecuali pembagian dengan nol). Bilangan irasional adalah bilangan real yang tidak dapat diekspresikan sebagai pecahan sederhana. Puncak dari sistem bilangan dasar ini adalah bilangan real (R), yang merupakan gabungan bilangan rasional dan irasional, merepresentasikan setiap titik pada garis bilangan dan merupakan dasar untuk kalkulus. Selain itu, terdapat bilangan kompleks (C) yang didefinisikan sebagai a + bi, di mana a dan b adalah bilangan real, dan i adalah unit imajiner dengan i kuadrat sama dengan -1, yang memungkinkan solusi untuk persamaan polinomial yang tidak memiliki akar real. Penerapan bilangan meluas ke hampir setiap aspek ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam fisika, bilangan digunakan untuk mengukur massa, kecepatan, dan energi, serta merumuskan hukum-hukum alam secara kuantitatif. Dalam kimia, bilangan esensial untuk stoikiometri, konsentrasi, dan perhitungan reaksi. Di bidang komputasi, bilangan biner (0 dan 1) adalah dasar dari semua representasi data dan operasi logis, sementara bilangan prima memiliki peran krusial dalam algoritma kriptografi untuk keamanan data. Dalam keuangan, bilangan digunakan untuk menghitung saldo, bunga, dan analisis risiko. Sifat-sifat bilangan seperti keterurutan, keunikan faktorisasi prima (Teorema Dasar Aritmetika), dan operasi aritmetikanya menjadi fondasi bagi pengembangan teori-teori matematika yang lebih tinggi, seperti aljabar, teori bilangan, dan analisis matematika, menjadikannya bahasa universal untuk deskripsi kuantitatif dan penalaran logis.

Kamus SD SDN Tampojung Tengah Baca Detail
Matematika

Bilangan Cacah

Bilangan Cacah adalah himpunan bilangan bulat non-negatif yang dimulai dari angka nol dan berlanjut ke semua bilangan bulat positif tanpa batas. Himpunan ini secara matematis direpresentasikan sebagai {0, 1, 2, 3, 4, ...}. Dalam notasi himpunan, bilangan cacah sering dilambangkan dengan simbol W (dari 'Whole numbers' dalam bahasa Inggris) atau N0 (mengindikasikan bilangan asli yang menyertakan nol). Bilangan cacah merupakan perluasan dari himpunan bilangan asli (bilangan bulat positif, {1, 2, 3, ...}) dengan menyertakan angka nol. Secara historis, konsep bilangan untuk perhitungan objek telah ada sejak peradaban kuno, namun pengenalan dan pengakuan angka nol sebagai elemen himpunan yang berdiri sendiri dan bukan hanya placeholder, terutama melalui kontribusi peradaban India dan ahli matematika Arab, merupakan tonggak penting dalam pembentukan konsep bilangan cacah modern. Secara aljabar, bilangan cacah memiliki beberapa sifat fundamental. Himpunan bilangan cacah tertutup terhadap operasi penjumlahan dan perkalian, yang berarti bahwa hasil dari penjumlahan atau perkalian dua bilangan cacah akan selalu menghasilkan bilangan cacah. Angka nol (0) berfungsi sebagai elemen identitas untuk penjumlahan (misalnya, a + 0 = a), sedangkan angka satu (1) adalah elemen identitas untuk perkalian (misalnya, a x 1 = a). Selain itu, bilangan cacah memenuhi sifat komutatif, asosiatif, dan distributif untuk operasi penjumlahan dan perkalian. Namun, himpunan ini tidak tertutup terhadap operasi pengurangan (misalnya, 3 - 5 = -2, yang bukan bilangan cacah) dan pembagian (misalnya, 5 / 2 = 2.5, yang juga bukan bilangan cacah), sehingga hasil operasi tersebut tidak selalu menghasilkan bilangan cacah. Konsep bilangan cacah berperan penting sebagai dasar dalam aritmetika, teori himpunan, perhitungan diskrit dalam ilmu komputer (seperti pengindeksan array), statistik, dan dalam berbagai konteks kuantitatif sehari-hari, seperti menghitung jumlah objek atau uang.

Kamus SD SDN Tampojung Tengah Baca Detail
Inklusi & Bahasa Isyarat

BISINDO (Bahasa Isyarat Indonesia)

BISINDO, akronim dari Bahasa Isyarat Indonesia, adalah bahasa isyarat alami yang dikembangkan dan digunakan oleh komunitas Tuli di Indonesia. Berbeda dengan Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) yang merupakan sistem isyarat buatan yang tata bahasanya mengikuti Bahasa Indonesia lisan, BISINDO merupakan bahasa visual-manual mandiri dengan struktur tata bahasa, morfologi, dan sintaksisnya sendiri yang unik, tidak tergantung pada tata bahasa Bahasa Indonesia lisan. Perkembangan BISINDO bersifat organik, berakar dari bahasa isyarat lokal yang digunakan secara turun-temurun di berbagai daerah di Indonesia, dengan pengaruh signifikan dari bahasa isyarat komunitas Tuli di Yogyakarta. Pengakuan dan advokasi terhadap BISINDO sebagai bahasa isyarat utama bagi komunitas Tuli di Indonesia mulai intensif sekitar awal tahun 2000-an, didorong oleh kebutuhan akan bahasa yang mendukung identitas dan pendidikan Tuli secara alamiah. Secara linguistik, BISINDO memiliki lima parameter dasar dalam pembentukan isyarat yang berfungsi mirip fonem dalam bahasa lisan, yaitu bentuk tangan (handshape), orientasi telapak tangan (orientation), lokasi isyarat (location) di tubuh atau di ruang isyarat, gerakan isyarat (movement), serta fitur non-manual (non-manual features) seperti ekspresi wajah, gerak kepala, dan postur tubuh. Kombinasi parameter-parameter ini menghasilkan ribuan isyarat dengan makna yang spesifik. Fitur non-manual, misalnya, dapat menunjukkan jenis kalimat (pertanyaan, pernyataan), intensitas, atau aspek gramatikal lainnya. Sebagai bahasa yang hidup, BISINDO terus berkembang seiring waktu, menciptakan kosakata baru dan menyesuaikan diri dengan konteks budaya dan teknologi. Peran BISINDO sangat krusial dalam aspek inklusi dan hak linguistik bagi individu Tuli di Indonesia. BISINDO berfungsi sebagai alat komunikasi utama, media pendidikan yang efektif, serta sarana pelestarian budaya dan identitas Tuli. Penggunaannya memungkinkan perkembangan kognitif dan sosial yang optimal bagi anak-anak Tuli, memfasilitasi akses informasi, dan mendukung partisipasi penuh dalam masyarakat. Berbagai organisasi dan aktivis Tuli terus mengadvokasi pengakuan BISINDO secara resmi dalam sistem pendidikan dan pelayanan publik, serta mendorong penyusunan kamus, materi ajar, dan pelatihan juru bahasa isyarat yang berbasis BISINDO, sebagai wujud nyata dukungan terhadap hak asasi manusia untuk berkomunikasi dalam bahasa ibu mereka.

Kamus SD SDN Tampojung Tengah Baca Detail
Sains & IPA

Ekosistem

Ekosistem adalah sebuah unit fungsional dalam ekologi yang terdiri dari interaksi antara komunitas organisme hidup (komponen biotik) dengan lingkungan fisik dan kimia di sekitarnya (komponen abiotik). Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh ahli ekologi Inggris Arthur G. Tansley pada tahun 1935. Komponen biotik meliputi produsen (autotrof, organisme yang menghasilkan makanannya sendiri melalui fotosintesis atau kemosintesis, contohnya tumbuhan hijau dan alga), konsumen (heterotrof, organisme yang memperoleh energi dengan memakan organisme lain, dibagi menjadi primer/herbivora, sekunder/karnivora pemakan herbivora, dan tersier/karnivora pemakan karnivora), serta dekomposer (detritivor, organisme seperti bakteri dan fungi yang menguraikan sisa-sisa organisme mati dan limbah, mengembalikan nutrien ke lingkungan). Komponen abiotik mencakup faktor-faktor non-hidup seperti suhu, cahaya matahari, air, pH tanah atau air, kelembaban, salinitas, oksigen, dan mineral anorganik yang semuanya memengaruhi kehidupan organisme dan proses biologis di dalamnya. Interaksi yang terjadi dalam ekosistem sangat kompleks dan dinamis, melibatkan aliran energi dan siklus materi. Aliran energi bersifat searah, dimulai dari energi matahari yang ditangkap oleh produsen, kemudian berpindah ke konsumen melalui rantai makanan dan jaring-jaring makanan. Pada setiap transfer energi antar tingkat trofik, sekitar 90% energi akan hilang dalam bentuk panas, sehingga hanya sekitar 10% yang tersedia untuk tingkat trofik berikutnya. Sementara itu, siklus materi atau nutrien (seperti siklus karbon, nitrogen, fosfor, dan air) bersifat tertutup dan berulang, di mana materi anorganik diserap oleh produsen, berpindah ke konsumen, dan akhirnya dikembalikan ke lingkungan oleh dekomposer untuk digunakan kembali. Keseimbangan dalam ekosistem (homeostasis) dipertahankan melalui mekanisme regulasi internal yang memungkinkan adaptasi terhadap perubahan lingkungan, meskipun kapasitas adaptasi ini memiliki batas tertentu. Contoh nyata ekosistem sangat beragam, bervariasi dalam skala dan karakteristiknya. Ekosistem terestrial meliputi hutan hujan tropis yang dicirikan oleh keanekaragaman hayati tinggi dan curah hujan melimpah, padang rumput dengan dominasi vegetasi rumput, atau gurun yang ekstrem dengan sedikit air dan vegetasi. Ekosistem akuatik dibagi menjadi ekosistem air tawar (seperti danau, sungai, dan kolam) dan ekosistem air laut (seperti terumbu karang, hutan mangrove, dan zona laut dalam) yang memiliki salinitas tinggi dan tekanan osmotik berbeda. Masing-masing ekosistem ini memiliki karakteristik lingkungan, komunitas organisme, serta pola aliran energi dan siklus materi yang spesifik, membentuk jaringan kehidupan yang saling terkait di biosfer bumi.

Kamus SD SDN Tampojung Tengah Baca Detail
Sains & IPA

Fotosintesis

Fotosintesis adalah proses biokimia esensial yang dilakukan oleh organisme fotoautotrof, meliputi tumbuhan hijau, alga, dan beberapa jenis bakteri, untuk mengubah energi cahaya menjadi energi kimia. Secara etimologis, istilah ini berasal dari bahasa Yunani "phos" yang berarti cahaya dan "synthesis" yang berarti penggabungan. Dalam proses ini, organisme tersebut menghasilkan senyawa organik, umumnya glukosa (C6H12O6), dari zat anorganik yaitu karbon dioksida (CO2) dan air (H2O) dengan memanfaatkan energi foton dari sinar matahari. Pada tumbuhan dan alga, fotosintesis berlangsung di dalam organel sel bernama kloroplas, yang mengandung pigmen fotosintetik utama seperti klorofil, karotenoid, dan fikobilin, yang bertanggung jawab menyerap energi cahaya. Mekanisme fotosintesis terbagi menjadi dua tahap utama: reaksi terang dan reaksi gelap (siklus Calvin). Reaksi terang terjadi di membran tilakoid dalam kloroplas, di mana klorofil dan pigmen lain menyerap energi cahaya. Energi ini kemudian digunakan untuk memecah molekul air (fotolisis), menghasilkan elektron, proton (H+), dan melepaskan oksigen (O2) sebagai produk sampingan. Energi cahaya yang diserap juga menggerakkan sintesis ATP (adenosin trifosfat) dan NADPH (nikotinamida adenin dinukleotida fosfat tereduksi), yang merupakan pembawa energi kimia. Selanjutnya, reaksi gelap atau siklus Calvin berlangsung di stroma kloroplas. Pada tahap ini, ATP dan NADPH yang dihasilkan dari reaksi terang digunakan untuk memfiksasi karbon dioksida (CO2) dari atmosfer dan mereduksinya menjadi glukosa melalui serangkaian reaksi enzimatik. Persamaan kimia umum yang menyederhanakan proses fotosintesis adalah: 6CO2 + 6H2O + Energi Cahaya → C6H12O6 + 6O2. Fotosintesis memegang peran fundamental dalam ekosistem global sebagai produsen utama biomassa dan sumber energi bagi hampir seluruh rantai makanan di Bumi. Organisme heterotrof bergantung pada produk fotosintesis, baik secara langsung (herbivora) maupun tidak langsung (karnivora dan omnivora). Selain produksi makanan, fotosintesis juga krusial dalam regulasi iklim dan komposisi atmosfer dengan menyerap karbon dioksida, salah satu gas rumah kaca, dan melepaskan oksigen yang esensial untuk respirasi aerobik sebagian besar makhluk hidup. Contoh nyata fotosintesis dapat diamati pada tumbuhan darat seperti padi, pohon jati, serta pada fitoplankton dan alga di lingkungan perairan, yang kesemuanya berkontribusi besar terhadap produktivitas primer global.

Kamus SD SDN Tampojung Tengah Baca Detail
Matematika

Geometri

Geometri merupakan cabang matematika yang secara fundamental mempelajari sifat-sifat ruang, bentuk, ukuran, posisi relatif objek, dan sifat-sifat ruang yang dapat direpresentasikan secara kuantitatif. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani kuno, geo yang berarti bumi dan metron yang berarti pengukuran, mencerminkan akar sejarahnya dalam survei dan pengukuran tanah. Elemen dasar dalam geometri meliputi titik sebagai entitas tanpa dimensi, garis sebagai objek satu dimensi tanpa ketebalan, bidang sebagai permukaan dua dimensi, dan ruang sebagai domain tiga dimensi atau lebih yang menampung objek-objek tersebut. Geometri juga berlandaskan pada sistem aksiomatik, di mana serangkaian definisi, aksioma, dan postulat digunakan untuk menurunkan teorema-teorema baru, seperti yang dirumuskan oleh Euclid dalam karyanya Elementa sekitar 300 SM. Sejarah geometri berawal dari peradaban kuno seperti Mesir (aplikasi dalam pembangunan piramida dan irigasi) serta Babilonia (astronomi dan kalender), kemudian berkembang pesat di Yunani kuno dengan kontribusi tokoh seperti Thales (teorema lingkaran), Pythagoras (teorema Pythagoras), dan khususnya Euclid yang mengkodifikasi geometri klasik. Pada abad ke-17, René Descartes dan Pierre de Fermat memperkenalkan geometri analitik atau geometri koordinat, yang menggabungkan aljabar dengan geometri melalui sistem koordinat Kartesius, memungkinkan representasi objek geometris menggunakan persamaan dan membuka jalan bagi analisis matematika lebih lanjut. Perkembangan penting lainnya termasuk geometri non-Euclidean pada abad ke-19 oleh Gauss, Lobachevsky, dan Riemann yang menantang postulat paralel Euclid, serta munculnya cabang-cabang seperti topologi (mempelajari sifat ruang yang invarian terhadap deformasi kontinu), geometri diferensial (menggunakan kalkulus untuk mempelajari kurva dan permukaan), dan geometri aljabar (menggabungkan metode aljabar abstrak). Aplikasi geometri sangat luas dan fundamental dalam berbagai disiplin ilmu serta kehidupan sehari-hari. Dalam arsitektur dan teknik sipil, geometri digunakan untuk perancangan struktur bangunan, jembatan, dan tata kota, memastikan stabilitas serta efisiensi penggunaan ruang. Kartografi memanfaatkan prinsip-prinsip geometri untuk pembuatan peta yang akurat dari permukaan Bumi. Dalam fisika, geometri adalah fondasi bagi mekanika, optik, dan khususnya teori relativitas Albert Einstein yang mendeskripsikan gravitasi sebagai kelengkungan ruang-waktu. Ilmu komputer dan grafika komputer mengandalkan geometri untuk pemodelan objek 3D, rendering gambar, animasi, dan visi komputer. Selain itu, geometri juga penting dalam seni dan desain untuk proporsi, perspektif, robotika, navigasi, serta berbagai aspek rekayasa dan teknologi modern lainnya.

Kamus SD SDN Tampojung Tengah Baca Detail
Tokoh & Biografi

Hoegeng Iman Santoso

Hoegeng Iman Santoso adalah seorang tokoh kepolisian dan birokrat Indonesia yang lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, pada 14 November 1921 dan wafat di Jakarta pada 14 Juli 2004. Ia menjabat sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) ke-5 dari 9 Mei 1968 hingga 3 Oktober 1971. Sebelum mengemban jabatan Kapolri, Hoegeng menempati berbagai posisi penting, termasuk Kepala Jawatan Imigrasi (1960), Menteri Iuran Negara (1965), dan Menteri/Sekretaris Kabinet Presidium (1966). Pendidikan hukumnya ditempuh di Rechtshoogeschool di Batavia (kini Fakultas Hukum Universitas Indonesia) yang diselesaikannya pada 1942, dan ia juga mengikuti pelatihan polisi di Swedia pada 1952. Selama masa kepemimpinannya sebagai Kapolri, Hoegeng Iman Santoso dikenal karena inisiatifnya dalam melakukan reformasi mendasar di tubuh institusi kepolisian guna memberantas praktik korupsi dan meningkatkan integritas serta profesionalisme anggota. Langkah-langkah konkret yang diambil meliputi penetapan larangan penerimaan hadiah bagi anggota kepolisian, penegakan disiplin yang ketat melalui mekanisme pengawasan internal, dan upaya penyederhanaan birokrasi dalam pelayanan publik seperti penerbitan surat izin mengemudi (SIM) dan surat tanda nomor kendaraan (STNK). Ia secara konsisten menegakkan prinsip transparansi dan akuntabilitas, yang tercermin dalam penanganan kasus-kasus sensitif, seperti kasus Sum Kuning di Yogyakarta pada tahun 1970, di mana ia memastikan proses hukum berjalan sesuai prosedur tanpa intervensi, meskipun melibatkan pihak-pihak dengan pengaruh politik. Integritas pribadinya yang tinggi, yang ditunjukkan melalui gaya hidup sederhana dan penolakannya terhadap praktik suap, menjadikannya ikon kejujuran dan teladan kepemimpinan di Indonesia, yang tetap relevan bahkan setelah masa jabatannya berakhir.

Kamus SD SDN Tampojung Tengah Baca Detail
Inklusi & Bahasa Isyarat

Isyarat "Terima Kasih"

Isyarat "Terima Kasih" adalah ekspresi fundamental dalam komunikasi manusia yang diterjemahkan ke dalam bentuk visual-manual dalam bahasa isyarat. Dalam konteks Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) dan Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI), gestur ini memiliki konfigurasi dan gerakan spesifik. Secara umum, isyarat untuk "Terima Kasih" melibatkan penggunaan tangan dominan, di mana telapak tangan dibuka rata dengan jari-jari rapat dan ibu jari menempel ke samping (sering disebut sebagai 'B-handshape'). Untuk melakukan isyarat "Terima Kasih", telapak tangan dominan yang terbuka tersebut pertama-tama menyentuh atau berada dekat area dagu atau bawah mulut. Kemudian, tangan digerakkan maju dan sedikit ke bawah, menjauh dari tubuh. Orientasi telapak tangan biasanya menghadap ke atas atau sedikit ke depan selama gerakan ini. Isyarat ini bukan hanya sekadar gerakan tangan; ia sangat bergantung pada penanda non-manual (non-manual markers) seperti ekspresi wajah, yang esensial untuk menyampaikan nuansa emosi dan ketulusan. Senyum yang tulus, kontak mata langsung, dan kadang-kadang disertai anggukan kepala ringan, merupakan komponen krusial yang menyertai gerakan tangan untuk mengomunikasikan rasa syukur secara efektif. Penggunaan isyarat "Terima Kasih" berfungsi untuk menyampaikan apresiasi, pengakuan, atau rasa syukur kepada individu lain dalam komunitas Tuli (Deaf) dan hard-of-hearing. Isyarat ini memainkan peran vital dalam memfasilitasi komunikasi yang inklusif dan memastikan bahwa individu Tuli dapat berinteraksi sosial dengan penuh hormat dan pengertian. Penting untuk diketahui bahwa meskipun prinsip dasarnya serupa, variasi kecil dalam gerakan tangan atau orientasi telapak tangan dapat ditemukan antara bahasa isyarat di berbagai negara atau bahkan di antara dialek regional dalam satu bahasa isyarat, mencerminkan sifat dinamis dan adaptif dari komunikasi isyarat.

Kamus SD SDN Tampojung Tengah Baca Detail
Tokoh & Biografi

Jendral Sudirman

Jenderal Sudirman, yang nama lengkapnya Raden Soedirman, lahir pada 24 Januari 1916 di Bodas Karangjati, Rembang, Purbalingga, Keresidenan Banyumas. Setelah menempuh pendidikan di HIS Taman Siswa dan MULO di Cilacap, ia sempat berkarier sebagai guru di HIS Muhammadiyah Cilacap dan aktif dalam organisasi kepanduan Hizbul Wathan. Pada masa pendudukan Jepang, Sudirman mengikuti pendidikan militer Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor pada tahun 1943 dan kemudian diangkat sebagai Komandan Batalyon (Daidancho) di Kroya, Banyumas. Pasca Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, ia secara aklamasi terpilih sebagai Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 12 November 1945, yang kemudian bertransformasi menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Sebagai Panglima Besar, Sudirman memimpin langsung pasukan TKR dalam Pertempuran Ambarawa yang berlangsung pada Desember 1945, berhasil mengusir pasukan Sekutu dari wilayah tersebut. Puncak kepemimpinan militernya terlihat jelas selama Agresi Militer Belanda II yang dilancarkan mulai 19 Desember 1948. Meskipun dalam kondisi sakit parah akibat tuberkulosis paru-paru dan harus ditandu, ia menolak untuk menyerah atau berdiam diri di istana, melainkan memilih untuk memimpin perang gerilya selama tujuh bulan di berbagai pelosok Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tindakannya memimpin perjuangan dari hutan dan gunung menjadi simbol perlawanan tak kenal menyerah dan mempertahankan integritas Republik Indonesia di saat para pemimpin sipil ditawan. Setelah perjuangan gerilya yang melelahkan, kondisi kesehatan Jenderal Sudirman terus memburuk secara drastis. Ia wafat pada 29 Januari 1950 di Magelang, Jawa Tengah, hanya beberapa minggu setelah pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda. Atas jasa-jasanya yang luar biasa dalam mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan negara, pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional Indonesia kepadanya berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 314 Tahun 1964 pada 13 Desember 1964. Ia juga dianugerahi pangkat Jenderal Besar TNI secara anumerta dengan lima bintang, menjadikannya salah satu tokoh militer paling dihormati dalam sejarah bangsa Indonesia.

Kamus SD SDN Tampojung Tengah Baca Detail
Agama Islam

Keragaman (QS Al-hujurat ayat 13)

Keragaman (QS Al-Hujurat ayat 13) Istilah "Keragaman (QS Al-Hujurat ayat 13)" merujuk pada prinsip fundamental dalam ajaran Islam yang menegaskan adanya perbedaan penciptaan manusia dalam bentuk bangsa-bangsa (shu'ūb) dan suku-suku (qabā'il). Perbedaan ini, sebagaimana termaktub dalam firman Allah SWT dalam Surah Al-Hujurat ayat 13, bukanlah dasar untuk saling membanggakan atau merendahkan, melainkan sebagai media untuk saling mengenal (li-ta'ārafū). Ayat ini secara eksplisit menyatakan: "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti." Karakteristik dan Mekanisme Konsep keragaman dalam QS Al-Hujurat ayat 13 memiliki beberapa karakteristik dan mekanisme prinsipil: 1. Penciptaan Ilahi yang Disengaja: Keragaman manusia dalam bentuk suku dan bangsa adalah hasil dari kehendak dan kekuasaan Allah SWT, bukan suatu kebetulan atau cacat. Ini menunjukkan kekayaan dan keagungan penciptaan-Nya. 2. Tujuan untuk Saling Mengenal (Li-Ta'ārafū): Mekanisme utama dari keragaman ini adalah mendorong interaksi, komunikasi, dan pemahaman antarindividu dan kelompok. "Saling mengenal" di sini mencakup pengenalan akan identitas, budaya, adat istiadat, sejarah, dan nilai-nilai satu sama lain, yang pada akhirnya dapat menumbuhkan empati, toleransi, dan kerja sama. Ini adalah penolakan terhadap isolasi dan xenofobia. 3. Penegasan Kesetaraan Asal-Usul: Ayat ini secara jelas menyatakan bahwa seluruh manusia berasal dari satu pasang jiwa (laki-laki dan perempuan pertama), menegaskan kesetaraan fundamental seluruh umat manusia di hadapan Tuhan, terlepas dari perbedaan etnis atau ras. Ini menghilangkan dasar klaim superioritas berdasarkan garis keturunan. 4. Tolok Ukur Kemuliaan adalah Ketakwaan: Ayat ini dengan tegas menolak superioritas berdasarkan ras, warna kulit, suku, atau bangsa. Satu-satunya kriteria kemuliaan di sisi Allah adalah ketakwaan (taqwa), yakni kesadaran akan Allah, ketaatan kepada perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya. Ini menggeser fokus dari identitas lahiriah kepada kualitas moral dan spiritual internal. 5. Batasan Konseptual: Keragaman ini bukanlah justifikasi untuk pluralisme nilai-nilai fundamental agama (misalnya, perbedaan akidah), melainkan keragaman dalam manifestasi sosial dan budaya dalam kerangka prinsip-prinsip Islam yang universal. Keragaman tidak berarti relativisme moral atau kebenaran. Relevansi dan Aplikasi Akademik Konsep keragaman dalam QS Al-Hujurat ayat 13 memiliki relevansi dan aplikasi yang sangat luas dalam studi ilmiah, pendidikan, dan kehidupan nyata, terutama dalam bidang Agama Islam dan ilmu-ilmu sosial: 1. Studi Toleransi dan Dialog Antarbudaya/Antaragama: Ayat ini menjadi landasan teologis yang kokoh bagi studi tentang toleransi, pluralisme positif, dan dialog antarbudaya serta antaragama dalam Islam. Para akademisi menggunakan ayat ini untuk mengembangkan model-model interaksi sosial yang harmonis dan inklusif. 2. Anti-Rasisme dan Kesetaraan Hak Asasi Manusia: Dalam studi Islam kontemporer, ayat ini sering dikutip sebagai argumen kuat melawan rasisme, diskriminasi etnis, dan segala bentuk superioritas yang didasarkan pada keturunan. Ini mendukung prinsip universal tentang kesetaraan hak asasi manusia tanpa memandang latar belakang. 3. Pendidikan Multikultural: Dalam konteks pendidikan Islam (tarbiyah), ayat ini menjadi dasar untuk menanamkan nilai-nilai penghargaan terhadap perbedaan, empati, dan pemahaman antarkelompok sejak dini. Kurikulum pendidikan dapat memasukkan pembelajaran tentang keragaman budaya sebagai bagian integral dari ajaran Islam. 4. Sosiologi dan Antropologi Islam: Konsep ini memberikan kerangka kerja bagi para sosiolog dan antropolog untuk memahami dinamika sosial masyarakat Muslim yang majemuk, meneliti bagaimana identitas suku dan bangsa berinteraksi dengan identitas keislaman, serta bagaimana keragaman tersebut dikelola dalam konteks keumatan (komunitas global Muslim). 5. Politik dan Kebijakan Publik: Dalam kajian politik Islam, ayat ini menjadi landasan bagi perumusan kebijakan yang adil dan inklusif, menghargai hak-hak minoritas, dan mendorong partisipasi semua kelompok masyarakat tanpa diskriminasi. Ini relevan dalam konteks negara-negara berpenduduk majemuk. 6. Pembangunan Komunitas Global: Konsep li-ta'ārafū mendorong umat Islam untuk berinteraksi dan berkontribusi secara positif dalam skala global, membangun jembatan pemahaman dengan peradaban dan budaya lain, serta berkolaborasi untuk kebaikan bersama umat manusia. Dengan demikian, "Keragaman (QS Al-Hujurat ayat 13)" adalah sebuah doktrin komprehensif yang tidak hanya mengakui eksistensi perbedaan, tetapi juga memberikan pedoman etis dan sosial untuk mengelola perbedaan tersebut secara konstruktif demi tercapainya keharmonisan, pemahaman, dan kemuliaan berdasarkan ketakwaan.

Kamus SD SDN Tampojung Tengah Baca Detail
Tokoh & Biografi

Ki Hadjar Dewantara

Ki Hadjar Dewantara, terlahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat pada tanggal 2 Mei 1889 di Pakualaman, Yogyakarta, adalah seorang tokoh sentral dalam sejarah pendidikan dan pergerakan kemerdekaan Indonesia. Beliau resmi mengganti namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara pada tahun 1922. Pada awal karirnya, ia dikenal sebagai jurnalis dan aktivis pergerakan, aktif dalam organisasi seperti Indische Partij yang didirikannya bersama Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo. Salah satu karya tulisnya yang paling terkenal adalah artikel berjudul "Als Ik Eens Nederlander Was" (Seandainya Aku Seorang Belanda) yang diterbitkan pada tahun 1913, berisi kritik tajam terhadap perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari Prancis yang diselenggarakan di Hindia Belanda, yang menyebabkan pengasingannya ke Belanda. Setelah kembali ke tanah air dari pengasingan, Ki Hadjar Dewantara memfokuskan perjuangannya di bidang pendidikan. Pada tanggal 3 Juli 1922, ia mendirikan Nationaal Onderwijs Instituut Taman Siswa atau Perguruan Nasional Taman Siswa di Yogyakarta, sebuah institusi pendidikan yang bertujuan memberikan pendidikan berbasis kebangsaan kepada pribumi, menentang diskriminasi dan sistem pendidikan kolonial. Melalui Taman Siswa, Ki Hadjar Dewantara mengembangkan filosofi pendidikan khas yang dikenal dengan semboyan "Ing Ngarsa Sung Tuladha" (di depan memberi teladan), "Ing Madya Mangun Karsa" (di tengah membangun kemauan), dan "Tut Wuri Handayani" (di belakang memberi dorongan), yang menjadi prinsip fundamental dalam sistem pendidikan Indonesia. Atas dedikasi dan sumbangsihnya yang besar, Ki Hadjar Dewantara ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 305 Tahun 1959, pada tanggal 28 November 1959. Beliau juga pernah mengemban amanah sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan pertama Republik Indonesia dalam Kabinet Presidensial. Ki Hadjar Dewantara wafat pada tanggal 26 April 1959 di Yogyakarta, dan untuk mengenang jasa-jasanya, tanggal kelahirannya, 2 Mei, diperingati setiap tahun sebagai Hari Pendidikan Nasional di Indonesia.

Kamus SD SDN Tampojung Tengah Baca Detail
Bahasa & Sastra

Metafora

Metafora adalah majas perbandingan implisit atau tidak langsung yang mengidentifikasi satu objek, konsep, atau gagasan dengan objek, konsep, atau gagasan lain untuk menyatakan kesamaan karakteristik atau sifat tanpa menggunakan kata-kata perbandingan eksplisit. Secara etimologi, kata "metafora" berasal dari bahasa Yunani "metaphora", yang diturunkan dari kata "metapherein" (meta = di atas, across; pherein = membawa, to carry), yang secara harfiah berarti "memindahkan" atau "mengalihkan". Konsep ini mencerminkan mekanisme metafora yang memindahkan atau mengalihkan makna serta sifat dari satu entitas ke entitas lain. Dalam klasifikasi gaya bahasa, metafora termasuk dalam kategori majas perbandingan. Ciri utama metafora adalah tidak adanya kata-kata penghubung perbandingan seperti "seperti", "bagaikan", "laksana", "mirip", atau "bak". Dalam metafora, subjek secara langsung disebut sebagai objek pembandingnya, menciptakan pernyataan identitas yang kuat dan seringkali mengejutkan. Fungsi gramatikalnya adalah sebagai nomina atau frasa nominal yang secara kiasan menggantikan atau mendeskripsikan subjek. Metafora berfungsi untuk memperkaya ekspresi linguistik, membuat tulisan atau ujaran menjadi lebih hidup, deskriptif, dan imajinatif, serta membantu pembaca atau pendengar memahami konsep abstrak melalui gambaran yang lebih konkret. Contoh konkret penggunaan metafora meliputi: "Ia adalah singa medan perang," yang mengidentifikasi keberanian seseorang dengan sifat singa tanpa menyatakan "seperti singa". Contoh lain adalah "Waktu adalah pedang," yang menunjukkan bahwa waktu memiliki kekuatan untuk melukai atau merugikan jika tidak dimanfaatkan dengan bijak, seperti tajamnya pedang. "Bunga desa itu sangat cantik" adalah metafora yang secara tidak langsung menyamakan kecantikan seorang gadis di desa dengan keindahan bunga. "Perpustakaan adalah jendela dunia" merupakan metafora yang menggambarkan perpustakaan sebagai sarana untuk mendapatkan pengetahuan luas mengenai dunia.

Kamus SD SDN Tampojung Tengah Baca Detail
Tokoh & Biografi

Mohammad Hatta

Mohammad Hatta lahir pada 12 Agustus 1902 di Bukittinggi, Sumatera Barat, dan wafat pada 14 Maret 1980 di Jakarta. Beliau adalah seorang proklamator kemerdekaan dan Wakil Presiden pertama Republik Indonesia. Hatta menempuh pendidikan di Handels Hogeschool (sekarang Erasmus Universiteit) di Rotterdam, Belanda, sejak tahun 1921. Selama di Belanda, ia aktif dalam organisasi Indische Vereeniging yang kemudian berubah nama menjadi Perhimpunan Indonesia, menjabat sebagai ketua pada tahun 1926. Melalui majalah "Indonesia Merdeka," Hatta secara konsisten menyuarakan tuntutan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda, yang berujung pada penangkapannya oleh otoritas Belanda pada tahun 1927 dan sempat ditahan di Den Haag. Setelah kembali ke Indonesia pada tahun 1932, aktivitas politiknya berlanjut hingga ia diasingkan ke Digul pada tahun 1935 dan kemudian ke Banda Neira oleh pemerintah kolonial Belanda. Peran Mohammad Hatta dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia mencapai puncaknya sebagai Wakil Ketua Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dan bersama Soekarno, secara resmi memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Beliau menjabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia dari tahun 1945 hingga 1956. Selain itu, Hatta memimpin delegasi Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag pada tahun 1949, yang menghasilkan pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda. Hatta dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia, dengan gagasan fundamental mengenai ekonomi kerakyatan yang menjadikan koperasi sebagai soko guru perekonomian bangsa, termaktub dalam bukunya "Beberapa Azas Ekonomi Koperasi". Atas jasa-jasanya, Mohammad Hatta ditetapkan sebagai Pahlawan Proklamator (bersama Soekarno) dan Pahlawan Nasional Indonesia melalui Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 081/TK/Tahun 1986 pada tanggal 23 Oktober 1986.

Kamus SD SDN Tampojung Tengah Baca Detail
Tokoh & Biografi

Nabi Muhammad SAW

Nabi Muhammad SAW adalah tokoh sentral dan pendiri agama Islam, lahir dengan nama Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muttalib bin Hasyim sekitar tahun 570 Masehi di Mekah, Jazirah Arab. Beliau wafat pada 8 Juni 632 Masehi di Madinah, Jazirah Arab. Nabi Muhammad tumbuh sebagai yatim piatu, diasuh kakeknya Abdul Muttalib dan kemudian pamannya Abu Thalib. Sebelum kenabian, beliau dikenal sebagai seorang pedagang yang jujur dan dipercaya, sehingga mendapatkan gelar Al-Amin. Pada tahun 610 Masehi, di Gua Hira, Mekah, Nabi Muhammad menerima wahyu pertamanya dari Allah melalui Malaikat Jibril, yang menandai awal kenabiannya pada usia sekitar 40 tahun. Wahyu-wahyu tersebut secara bertahap dihimpun menjadi kitab suci Al-Quran. Setelah menerima wahyu, Nabi Muhammad memulai dakwah Islam secara sembunyi-sembunyi dan kemudian terang-terangan di Mekah selama sekitar 13 tahun. Dakwahnya menghadapi penolakan dan penganiayaan dari kaum Quraisy Mekah. Peristiwa penting pada periode Mekah termasuk Isra' Mi'raj, sebuah perjalanan spiritual yang dialaminya. Pada tahun 622 Masehi, Nabi Muhammad bersama para pengikutnya berhijrah dari Mekah ke Yatsrib, yang kemudian dikenal sebagai Madinah. Peristiwa Hijrah ini menandai dimulainya kalender Islam (Hijriyah) dan menjadi titik balik dalam penyebaran Islam. Di Madinah, beliau tidak hanya berperan sebagai pemimpin agama, tetapi juga sebagai pemimpin politik dan militer yang membangun Piagam Madinah, sebuah konstitusi yang mengatur kehidupan multietnis dan multi-agama, serta mendirikan negara kota Islam pertama. Periode Madinah ditandai oleh beberapa peristiwa penting, termasuk Perang Badar (624 M), Perang Uhud (625 M), dan Perang Khandaq (627 M) yang merupakan konflik antara umat Islam dan suku-suku Mekah serta sekutunya. Pada tahun 628 Masehi, tercapai Perjanjian Hudaibiyah, sebuah gencatan senjata krusial dengan kaum Quraisy Mekah. Perjanjian ini membuka jalan bagi Fathu Mekah (Penaklukan Mekah) pada tahun 630 Masehi, di mana Mekah berhasil dikuasai tanpa pertumpahan darah signifikan, dan Ka'bah dibersihkan dari berhala. Dua tahun kemudian, pada tahun 632 Masehi, Nabi Muhammad melaksanakan Haji Wada' atau Haji Perpisahan, di mana beliau menyampaikan khotbah terakhirnya yang menggarisbawahi prinsip-prinsip universal Islam. Sebagai pembawa risalah, beliau meninggalkan warisan berupa ajaran monoteisme (tauhid), keadilan sosial, dan kode etik kehidupan yang membentuk peradaban Islam.

Kamus SD SDN Tampojung Tengah Baca Detail
Tokoh & Biografi

Pengeran Antasari

Pangeran Antasari, dengan nama lahir Gusti Inu Kartapati, lahir pada tahun 1809 di Kayu Tangi, Kesultanan Banjar, wilayah yang kini merupakan bagian dari Kalimantan Selatan. Beliau wafat pada tanggal 11 Oktober 1862 di pedalaman Sungai Barito, tepatnya di Bayan Begok, Kalimantan Tengah, akibat penyakit cacar. Pangeran Antasari dikenal luas sebagai pemimpin utama dalam Perang Banjar, sebuah konflik bersenjata besar melawan kolonial Belanda yang berlangsung dari tahun 1859 hingga 1862. Konflik ini dipicu oleh intervensi Belanda dalam suksesi Kesultanan Banjar dan eksploitasi sumber daya alam seperti batubara. Pangeran Antasari, sebagai salah satu pewaris sah takhta Kesultanan Banjar dan sepupu Sultan Adam, menolak keras penetapan Sultan Tamjidullah II oleh Belanda serta kebijakan-kebijakan kolonial yang merugikan rakyat. Selama Perang Banjar, Pangeran Antasari memimpin perlawanan gerilya yang gigih di berbagai wilayah, mulai dari Martapura, Banjar Lama, hingga daerah pedalaman Hulu Sungai dan Barito. Pada 14 Maret 1862, beliau mendeklarasikan diri sebagai Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin, sebuah gelar yang menegaskan kepemimpinannya dalam perjuangan agama dan politik. Semboyan perjuangannya yang terkenal adalah "Haram Manyarah Waja Sampai Kaputing," yang berarti pantang menyerah hingga titik darah penghabisan atau sampai akhir. Meskipun wafat di tengah perjuangan, semangat perlawanannya diteruskan oleh para pengikutnya. Atas jasa-jasanya dalam mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan bangsa, Pangeran Antasari secara anumerta dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 06/TK/1965 pada tanggal 27 Maret 1965.

Kamus SD SDN Tampojung Tengah Baca Detail
Tokoh & Biografi

Pengeran Diponigoro

Pangeran Diponegoro, yang memiliki nama lahir Raden Mas Mustahar dan kemudian dikenal sebagai Raden Mas Antawirya, lahir pada tanggal 11 November 1785 di Yogyakarta. Beliau adalah putra sulung dari Sultan Hamengkubuwono III, raja ketiga Kesultanan Yogyakarta, dengan selir R.A. Mangkarawati. Setelah dewasa, beliau secara resmi menyandang gelar Bendara Pangeran Harya Dipanegara. Beliau diakui sebagai Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 087/TK/Tahun 1973 tertanggal 6 November 1973. Peran utama Pangeran Diponegoro dalam sejarah Indonesia adalah sebagai pemimpin Perang Jawa (Java War) yang berlangsung dari tahun 1825 hingga 1830. Perang ini pecah akibat akumulasi ketidakpuasan Pangeran Diponegoro terhadap campur tangan pemerintah kolonial Hindia Belanda dalam urusan internal keraton, adat istiadat, serta penderitaan rakyat akibat berbagai kebijakan eksploitatif. Pemicu langsung perang adalah pembangunan jalan yang melintasi makam leluhurnya di Tegalrejo oleh Belanda tanpa izin. Dalam perjuangannya melawan kolonial Hindia Belanda, Pangeran Diponegoro menerapkan strategi perang gerilya dan didukung oleh tokoh-tokoh seperti Kyai Mojo, Pangeran Mangkubumi, dan Sentot Prawirodirjo. Wilayah perjuangannya meliputi sebagian besar Jawa Tengah dan sebagian Jawa Timur. Perang Jawa berakhir pada tahun 1830 setelah Pangeran Diponegoro ditangkap melalui tipu muslihat perundingan di Magelang. Setelah penangkapannya, beliau diasingkan secara bertahap, dimulai dari Semarang dan Batavia, kemudian dipindahkan ke Manado pada tahun 1830, sebelum akhirnya dipindahkan ke Makassar pada tahun 1833. Beliau wafat di Makassar pada tanggal 8 Januari 1855. Selama masa pengasingannya di Makassar, Pangeran Diponegoro menulis otobiografinya yang monumental, "Babad Diponegoro", sebuah karya sastra dan sejarah yang berisi catatan perjuangan, pemikiran, dan pandangannya yang menjadi sumber primer berharga bagi penulisan sejarah Perang Jawa.

Kamus SD SDN Tampojung Tengah Baca Detail
Pramuka

Pramuka

Pramuka adalah akronim dari Praja Muda Karana, sebuah organisasi kepanduan resmi di Indonesia yang memiliki makna "jiwa muda yang gemar berkarya". Keberadaan Gerakan Pramuka di Indonesia secara historis merupakan hasil unifikasi dari beragam organisasi kepanduan yang ada sebelumnya, seperti Nederlands Indische Padvinders Vereeniging (NIPV), Hizbul Wathan (HW), Nationale Padvinderij Organisatie (NPO), Pandu Rakyat Indonesia, dan sekitar 60 organisasi kepanduan lainnya yang beroperasi sejak era Hindia Belanda hingga pasca-kemerdekaan. Proses unifikasi ini diformalkan melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 238 Tahun 1961 tentang Gerakan Pramuka, yang ditetapkan pada tanggal 20 Mei 1961. Peresmian gerakan ini kemudian diperingati setiap tanggal 14 Agustus 1961, di mana Sri Sultan Hamengkubuwono IX diangkat sebagai Ketua Kwartir Nasional pertama, menandai berdirinya Gerakan Pramuka secara nasional. Gerakan Pramuka beroperasi di bawah payung hukum Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka. Organisasi ini memiliki struktur hierarkis yang terorganisir, dimulai dari Kwartir Nasional (Kwarnas) di tingkat pusat, Kwartir Daerah (Kwarda) di tingkat provinsi, Kwartir Cabang (Kwarcab) di tingkat kabupaten atau kota, Kwartir Ranting (Kwarran) di tingkat kecamatan, hingga Gugus Depan (Gudep) sebagai satuan organisasi terkecil di sekolah atau komunitas. Keanggotaan Gerakan Pramuka diklasifikasikan berdasarkan kelompok usia: Pramuka Siaga (7-10 tahun), Pramuka Penggalang (11-15 tahun), Pramuka Penegak (16-20 tahun), dan Pramuka Pandega (21-25 tahun). Tujuan utama Gerakan Pramuka adalah membentuk karakter kaum muda Indonesia agar memiliki kepribadian yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, berjiwa patriotik, taat hukum, disiplin, serta menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa. Pembentukan karakter ini diimplementasikan melalui berbagai kegiatan pendidikan non-formal yang berlandaskan pada prinsip dasar kepramukaan serta metode kepramukaan, yang termaktub dalam Tri Satya (tiga janji) dan Dasa Dharma (sepuluh kebijakan moral).

Kamus SD SDN Tampojung Tengah Baca Detail
Bahasa & Sastra

Puisi

Puisi, sebuah nomina atau kata benda dalam klasifikasi gramatikal, merupakan istilah yang diserap dari bahasa Belanda poëzie dan bahasa Inggris poetry, dengan akar kata dari bahasa Yunani kuno poieo (berarti 'membuat' atau 'menciptakan') serta poiēsis (yang merujuk pada 'pembuatan' atau 'penciptaan'). Dalam khazanah sastra klasik Indonesia, konsep yang setara dengan puisi dapat ditemukan pada istilah kavya dari bahasa Sanskerta, yang secara harfiah berarti 'karya sastra' atau 'syair'. Secara substansial, puisi didefinisikan sebagai salah satu bentuk karya sastra yang memanfaatkan bahasa secara intensif untuk menyampaikan gagasan, emosi, atau pengalaman melalui pemadatan makna, musikalitas, dan efek estetis yang tercipta dari pemilihan diksi yang cermat, struktur kalimat yang khas, serta penggunaan majas atau gaya bahasa secara ekstensif. Karakteristik spesifik puisi mencakup pemanfaatan unsur bunyi seperti rima (persamaan bunyi pada akhir larik), aliterasi (pengulangan bunyi konsonan di awal kata), dan asonansi (pengulangan bunyi vokal) untuk membangun musikalitas dan ritme internal. Struktur visual puisi seringkali tersusun dalam baris-baris (larik) yang kemudian dikelompokkan menjadi bait (stroph atau stanza), di mana tipografi atau penataan visual kata di halaman dapat menjadi bagian integral dari penyampaian makna. Berdasarkan bentuknya, puisi dapat diklasifikasikan menjadi puisi terikat (puisi lama) yang patuh pada aturan baku mengenai jumlah suku kata, pola rima, dan jumlah baris per bait (misalnya pantun, syair, gurindam, soneta), serta puisi bebas (puisi modern) yang mengeksplorasi kebebasan bentuk tanpa terikat pakem formal, namun tetap mengutamakan kepadatan makna, penciptaan citraan (imagery), dan eksplorasi bahasa konotatif. Dalam disiplin ilmu sastra dan linguistik, puisi menjadi objek studi yang dianalisis berdasarkan elemen intrinsiknya seperti tema, amanat, nada, dan suasana, serta unsur ekstrinsik yang melibatkan konteks historis, sosial-budaya, atau latar belakang penyair. Sebagai contoh penggunaan dalam kalimat akademis, "Analisis terhadap puisi 'Sajak Putih' karya Chairil Anwar menunjukkan eksplorasi mendalam atas tema eksistensialisme melalui diksi yang padat dan penggunaan metafora yang kuat."

Kamus SD SDN Tampojung Tengah Baca Detail
Tokoh & Biografi

R.A. Kartini

Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat, atau lebih dikenal sebagai R.A. Kartini, adalah seorang tokoh pelopor kebangkitan perempuan pribumi Indonesia yang lahir pada tanggal 21 April 1879 di Jepara, Hindia Belanda. Ia wafat di Rembang pada 13 September 1904. Kartini dikenal atas perjuangannya dalam menyetarakan hak pendidikan bagi kaum perempuan di tengah masyarakat Jawa pada masa kolonial Belanda, serta menentang praktik adat yang membatasi ruang gerak perempuan seperti kawin paksa dan poligami yang merugikan. Perjuangan Kartini secara konkret diwujudkan melalui korespondensi aktifnya dengan sejumlah teman-teman Eropa, termasuk Rosa Manuela Abendanon-Mandri dan Estelle "Stella" Zeehandelaar. Dalam surat-surat tersebut, ia secara lugas mengutarakan gagasan-gagasan tentang emansipasi, kritik terhadap feodalisme, dan pentingnya pendidikan bagi perempuan. Setelah kematiannya, surat-surat Kartini dikumpulkan dan diterbitkan oleh J.H. Abendanon pada tahun 1911 dengan judul asli "Door Duisternis tot Licht", yang kemudian diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Armijn Pane pada tahun 1938 menjadi "Habis Gelap Terbitlah Terang". Pada tahun 1903, Kartini juga mendirikan sekolah wanita pertama di Jepara, yang berlokasi di pendopo kabupaten, sebagai upaya nyata untuk memberikan akses pendidikan kepada anak-anak perempuan pribumi. Atas jasa-jasanya dalam memelopori gerakan emansipasi wanita dan pendidikan di Indonesia, R.A. Kartini secara resmi dianugerahi gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional Indonesia oleh Presiden Soekarno melalui Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 108 Tahun 1964, yang dikeluarkan pada tanggal 2 Mei 1964. Peringatan hari kelahirannya, tanggal 21 April, kemudian ditetapkan sebagai Hari Kartini, menjadikannya simbol inspirasi bagi perjuangan hak-hak perempuan di Indonesia.

Kamus SD SDN Tampojung Tengah Baca Detail
Bahasa & Sastra

Sinonim

Sinonim adalah sebuah nomina atau kata benda dalam kajian linguistik yang merujuk pada relasi semantik antara dua leksem atau lebih yang memiliki makna serupa atau mirip. Secara etimologis, kata "sinonim" berasal dari bahasa Yunani kuno, yakni gabungan kata "syn" yang berarti 'bersama' atau 'dengan', dan "onoma" yang berarti 'nama'. Dengan demikian, sinonim secara harfiah dapat diartikan sebagai 'nama yang sama' atau 'bersama nama', mengacu pada konsep kesamaan makna di antara kata-kata. Dalam ilmu bahasa, sinonimi merupakan salah satu jenis hubungan makna (relasi semantik) yang penting untuk memahami kekayaan dan kompleksitas leksikal suatu bahasa, memungkinkan penutur untuk menyampaikan gagasan dengan variasi ekspresi. Ciri utama sinonim adalah kemampuannya untuk saling menggantikan dalam konteks tertentu, meskipun jarang sekali terjadi substitusi yang sepenuhnya identik tanpa perubahan nuansa, gaya, atau implikasi makna. Perbedaan antara sinonim-sinonim sering kali terletak pada intensitas makna (misalnya: "melihat" dan "mengamati"), konotasi atau nuansa emosional (misalnya: "mati" dan "wafat"), register atau laras bahasa (misalnya: "uang" dan "duit"), serta asal-usul kata (misalnya: kata serapan dan kata asli). Oleh karena itu, para ahli linguistik sering membedakan antara sinonim mutlak (sangat langka, dapat saling menggantikan dalam semua konteks), sinonim dekat (makna sangat mirip tetapi ada perbedaan nuansa kecil), dan sinonim longgar (makna umum serupa tetapi dengan perbedaan signifikan pada konteks penggunaan spesifik). Beberapa contoh konkret penggunaan sinonim dalam bahasa Indonesia meliputi pasangan kata "cantik" dan "elok" (keduanya merujuk pada keindahan, tetapi "elok" seringkali memiliki nuansa yang lebih klasik atau formal), "lihat" dan "pandang" (keduanya berarti mengarahkan mata, tetapi "pandang" bisa lebih intens atau lama), serta "mati" dan "meninggal" (keduanya merujuk pada akhir kehidupan, namun "meninggal" lebih halus dan formal, sementara "mati" lebih lugas dan umum). Keberadaan sinonim ini memiliki fungsi penting dalam komunikasi, yaitu untuk memperkaya kosakata, menghindari pengulangan kata yang monoton dalam tulisan atau ucapan, serta memungkinkan penutur untuk memilih kata yang paling tepat sesuai dengan konteks situasi, maksud komunikasi, dan target audiens, sehingga meningkatkan efektivitas dan estetika berbahasa.

Kamus SD SDN Tampojung Tengah Baca Detail
Tokoh & Biografi

Soekarno

Nama lengkap Ir. Soekarno, Proklamator Kemerdekaan dan Presiden pertama Republik Indonesia. Beliau lahir dengan nama Kusno Sosrodihardjo di Surabaya pada 6 Juni 1901 dan wafat di Jakarta pada 21 Juni 1970. Soekarno menyelesaikan pendidikan di Hogere Burger School (HBS) Surabaya pada tahun 1920 dan Technische Hoogeschool te Bandoeng (THS, kini Institut Teknologi Bandung) pada tahun 1926 dengan gelar insinyur teknik sipil. Kiprah politiknya dimulai dengan mendirikan Algemeene Studie Club pada tahun 1926 yang kemudian berkembang menjadi Perserikatan Nasional Indonesia (PNI) pada 4 Juli 1927. Perjuangannya dalam menggalang semangat nasionalisme menyebabkan ia beberapa kali ditangkap dan diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda, antara lain ke Ende (Flores) dari tahun 1934 hingga 1938 dan ke Bengkulu dari tahun 1938 hingga 1942. Pada masa pendudukan Jepang, Soekarno berperan aktif dalam Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) sebagai ketua panitia perumus Pancasila, yang disampaikan melalui pidato 1 Juni 1945. Selanjutnya, ia menjadi ketua Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Puncak perjuangannya adalah saat ia bersama Mohammad Hatta memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, dan kemudian diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia yang pertama. Selama kepemimpinannya (1945-1967), Soekarno memperjuangkan pengakuan kedaulatan Indonesia, memimpin Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada tahun 1955, dan menjadi salah satu pelopor Gerakan Non-Blok, yang menjadikan Indonesia memiliki peran signifikan di kancah internasional. Ia juga mengagas konsep Demokrasi Terpimpin dan ideologi Manipol-USDEK serta Nasakom. Pada tahun 1967, kepemimpinan Soekarno berakhir setelah dikeluarkannya Ketetapan MPRS No. XXXIII/MPRS/1967. Beliau mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto, Jakarta, dan dimakamkan di Blitar, Jawa Timur. Pemerintah Republik Indonesia menganugerahinya gelar Pahlawan Proklamator pada tahun 1986 melalui Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 068/TK/Tahun 1986, mengakui kontribusi tak ternilai dalam mendirikan dan mempertahankan kemerdekaan bangsa. Nama "Soekarno" dengan ejaan "oe" adalah ejaan lama yang sesuai dengan ejaan aslinya, sementara ejaan yang disempurnakan (EYD) menulisnya sebagai "Sukarno", namun ejaan "Soekarno" tetap diakui dan digunakan secara luas dalam konteks sejarah dan kebudayaan.

Kamus SD SDN Tampojung Tengah Baca Detail
Agama Islam

Syahadatain

Syahadatain adalah bentuk musanna (dua) dari kata syahadah dalam bahasa Arab (شهادة), yang secara harfiah berarti "dua kesaksian" atau "dua persaksian". Secara terminologi dalam agama Islam, Syahadatain merujuk pada dua kalimat persaksian fundamental yang merupakan rukun Islam yang pertama dan menjadi inti akidah Islam. Kalimat pertama adalah persaksian tauhid kepada Allah, yang berbunyi: "Asyhadu an laa ilaaha illallaah" (Saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah). Kalimat kedua adalah persaksian terhadap kenabian Muhammad, yang berbunyi: "Wa asyhadu anna Muhammadan Rasuulullaah" (Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah). Kedua kalimat ini diucapkan secara berurutan dan terangkai menjadi satu deklarasi keimanan. Fungsi utama Syahadatain adalah sebagai pintu gerbang masuk ke dalam Islam, di mana seseorang yang mengucapkannya dengan lisan, memahami maknanya dengan hati, dan mengimplementasikannya dalam perbuatan, secara sah diakui sebagai seorang Muslim. Persaksian tauhid pada kalimat pertama menegaskan keesaan Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah, menolak segala bentuk kemusyrikan, dan merupakan inti dari konsep tauhid uluhiyah, rububiyah, serta asma wa sifat. Sementara itu, persaksian pada kalimat kedua mengakui Muhammad bin Abdullah (lahir di Mekkah sekitar tahun 570 M, wafat di Madinah tahun 632 M) sebagai Rasul terakhir yang diutus oleh Allah untuk menyampaikan risalah Islam kepada seluruh umat manusia, yang berarti penerimaan terhadap ajaran, syariat, dan sunahnya. Pengucapan Syahadatain mensyaratkan tidak hanya lafaz verbal tetapi juga pemahaman yang mendalam tentang implikasinya, yaitu kepatuhan total terhadap segala perintah Allah dan Rasul-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Ia menjadi fondasi seluruh amalan ibadah dalam Islam dan merupakan penentu identitas keislaman seseorang di dunia, dengan konsekuensi hukum Islam seperti dalam hal pernikahan, warisan, atau tata cara penguburan jenazah. Syahadatain juga merupakan bagian integral dari adzan, iqamah, dan bacaan tahiyat dalam salat, menegaskan posisinya yang sentral dalam praktik keagamaan sehari-hari umat Islam.

Kamus SD SDN Tampojung Tengah Baca Detail
Tokoh & Biografi

Tuanku Imam Bonjol

Peto Syarif, yang kemudian dikenal sebagai Muhammad Shahab, lahir sekitar tahun 1772 di Bonjol, Pasaman, Sumatera Barat. Ia merupakan seorang ulama terkemuka di Minangkabau yang terlibat dalam Gerakan Padri, sebuah gerakan reformasi keagamaan yang bertujuan memurnikan ajaran Islam di wilayah tersebut dari praktik-praktik adat yang dianggap bertentangan dengan syariat. Setelah menunaikan ibadah haji, ia menjadi salah satu pemimpin Padri yang paling berpengaruh dengan gelar Tuanku Koto Tangah. Konflik antara kaum Padri dan kaum Adat dimulai sekitar tahun 1803, dan Peto Syarif kemudian diangkat sebagai imam di Benteng Bonjol, sehingga ia dikenal sebagai Tuanku Imam Bonjol. Pada tahun 1821, intervensi kolonial Belanda mengubah sifat Perang Padri dari konflik internal menjadi perjuangan bersenjata melawan penjajah. Tuanku Imam Bonjol memainkan peran krusial dalam menyatukan kembali kaum Padri dan kaum Adat untuk bersama-sama menghadapi Belanda. Ia memimpin perlawanan bersenjata yang gigih dari Benteng Bonjol, yang menjadi markas utama pergerakan tersebut. Perlawanan ini berlangsung hingga tahun 1837, ditandai dengan berbagai perjanjian damai yang sering dilanggar Belanda, seperti Perjanjian Masang (1824) dan Perjanjian Padang (1825). Pada 28 Oktober 1837, Tuanku Imam Bonjol ditangkap oleh Belanda melalui tipu muslihat di daerah Palupuh saat hendak berunding. Ia kemudian diasingkan secara bertahap, mulai dari Batavia (kini Jakarta), kemudian ke Ambon, dan terakhir ke Lotta, Minahasa, Sulawesi Utara, tempat ia wafat pada 6 November 1864. Atas jasa-jasanya dalam mempertahankan kemerdekaan, Tuanku Imam Bonjol secara resmi diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 087/TK/Tahun 1973 tanggal 6 November 1973.

Kamus SD SDN Tampojung Tengah Baca Detail
Tokoh & Biografi

Umar Bin Khattab

Umar bin Khattab, dengan nama lengkap Abu Hafs Umar bin al-Khattab bin Nufail bin Abdul Uzza, adalah Khalifah kedua dalam sejarah Islam yang memerintah dari tahun 634 M hingga 644 M (13-23 H). Beliau lahir di Mekkah sekitar tahun 584 M dan meninggal dunia di Madinah pada 26 Dzulhijjah 23 H, atau 3 November 644 M, akibat serangan Abu Lu'lu'ah (Firoz), seorang budak Persia. Sebelum memeluk Islam pada tahun keenam kenabian (sekitar 616 M), Umar dikenal sebagai seorang yang tegas dan disegani dari kabilah Bani Adi, salah satu suku Quraisy. Setelah memeluk Islam, ketegasannya digunakan untuk membela kaum Muslimin yang minoritas, memungkinkannya untuk melakukan ibadah secara terang-terangan di Ka'bah. Beliau merupakan salah satu sahabat utama Nabi Muhammad SAW dan mendampingi Nabi dalam berbagai peristiwa penting seperti hijrah ke Madinah serta sejumlah peperangan termasuk Badar, Uhud, dan Khandaq. Sebagai Khalifah, Umar bin Khattab dikenal dengan gelar Amirul Mukminin dan Al-Faruq, yang berarti 'pembeda antara kebenaran dan kebatilan'. Masa pemerintahannya ditandai dengan ekspansi wilayah Islam yang pesat dan signifikan, termasuk penaklukan Syam (sekarang Suriah, Yordania, Palestina) melalui Pertempuran Yarmuk pada 636 M melawan Kekaisaran Bizantium, penaklukan Yerusalem pada 637 M, serta penaklukan Persia (Kekaisaran Sassaniyah) melalui Pertempuran Qadisiyah pada 636 M dan Nihawand pada 642 M. Mesir juga berhasil ditaklukkan di bawah kepemimpinan Amr bin al-Ash antara 640-642 M. Selain ekspansi militer, Umar melakukan reformasi administratif yang fundamental, di antaranya pembentukan Diwan (departemen administrasi negara) pada tahun 639 M untuk mengelola keuangan dan distribusi tunjangan, penetapan sistem peradilan dengan mengangkat qadi (hakim) di setiap provinsi, serta pendirian kota-kota garnisun atau amsar seperti Kufah dan Basra di Irak serta Fustat di Mesir, sebagai pusat pemerintahan dan militer. Beliau juga secara resmi menetapkan kalender Hijriah pada tahun 17 H (638 M), dengan peristiwa hijrah Nabi Muhammad sebagai titik awalnya.

Kamus SD SDN Tampojung Tengah Baca Detail
Tokoh & Biografi

Utsman bin Affan

Utsman bin Affan, dengan nama lengkap Utsman ibn Affan al-Amawi al-Qurayshi, adalah salah satu sahabat utama Nabi Muhammad SAW dan Khalifah ketiga dalam sejarah Islam. Beliau lahir sekitar tahun 577 Masehi di Thaif, Jazirah Arab, dari klan Bani Umayyah suku Quraisy, dengan ayah bernama Affan bin Abul Ash dan ibu bernama Arwa binti Kurayz. Utsman bin Affan memeluk Islam pada masa awal dakwah Nabi Muhammad dan dikenal sebagai salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga. Beliau menikahi dua putri Nabi Muhammad secara berturut-turut, Ruqayyah dan setelah wafatnya Ruqayyah, beliau menikahi Ummu Kultsum, yang memberinya gelar khusus "Dzun Nurain" (pemilik dua cahaya). Beliau turut serta dalam hijrah ke Habasyah (Ethiopia) dan kemudian hijrah ke Madinah, meskipun tidak ikut serta dalam Perang Badar karena merawat istrinya, Ruqayyah, yang sakit parah. Masa kekhalifahan Utsman bin Affan berlangsung selama dua belas tahun, dari 644 M hingga 656 M (24-35 Hijriyah), setelah wafatnya Khalifah Umar bin Khattab. Prestasi terbesarnya adalah proyek kodifikasi dan standardisasi Al-Quran. Menanggapi variasi bacaan dan potensi perpecahan di kalangan umat Islam, Utsman memerintahkan penyusunan satu Mushaf standar yang dikenal sebagai Mushaf Utsmani. Proyek ini dipimpin oleh Zaid bin Tsabit dan melibatkan komite sahabat lainnya, menghasilkan naskah tunggal yang kemudian dikirimkan ke berbagai pusat kekhalifahan Islam, dengan salinan lain dibakar untuk mencegah perbedaan. Selama masa kepemimpinannya, wilayah kekhalifahan Islam juga mengalami perluasan signifikan, meliputi penaklukan sebagian Afrika Utara (termasuk Ifriqiyah), Siprus, dan wilayah timur Persia. Beliau juga memprakarsai pembentukan angkatan laut Islam pertama untuk pertahanan dan ekspansi maritim. Pada akhir masa pemerintahannya, Utsman bin Affan menghadapi gejolak internal dan ketidakpuasan dari berbagai wilayah, yang sebagian besar dipicu oleh kebijakan administratif, penunjukan pejabat, dan isu-isu ekonomi. Situasi ini memuncak dengan pengepungan kediamannya di Madinah oleh kelompok pemberontak dari Mesir dan Kufah. Pada tanggal 17 Juni 656 M (18 Dzulhijjah 35 H), Utsman bin Affan dibunuh oleh pemberontak saat sedang membaca Al-Quran di rumahnya. Beliau dimakamkan di Jannatul Baqi', Madinah. Pembunuhannya menjadi salah satu peristiwa penting yang menandai awal fitnah besar (perpecahan internal) dalam sejarah Islam.

Kamus SD SDN Tampojung Tengah Baca Detail