✨ Selamat Datang di Website Resmi SD Negeri Tampojung Tengah | 📅 Sinkronisasi Waktu... | 📞 Kontak: - / sdnegeritampojungtengah@gmail.com
Beranda
Kamus Istilah Digital Terpadu

E-Dictionary & Ensiklopedia Istilah Sekolah

Pusat referensi perbendaharaan kata, istilah sains, sastra, matematika, serta panduan gerakan Bahasa Isyarat (Inklusi) penunjang akselerasi pemahaman belajar peserta didik.

Kolom Pencarian Istilah

Cari istilah dalam kamus sekolah berdasarkan kata kunci atau kategori.

Bahasa & Sastra

Metafora

Metafora adalah majas perbandingan implisit atau tidak langsung yang mengidentifikasi satu objek, konsep, atau gagasan dengan objek, konsep, atau gagasan lain untuk menyatakan kesamaan karakteristik atau sifat tanpa menggunakan kata-kata perbandingan eksplisit. Secara etimologi, kata "metafora" berasal dari bahasa Yunani "metaphora", yang diturunkan dari kata "metapherein" (meta = di atas, across; pherein = membawa, to carry), yang secara harfiah berarti "memindahkan" atau "mengalihkan". Konsep ini mencerminkan mekanisme metafora yang memindahkan atau mengalihkan makna serta sifat dari satu entitas ke entitas lain. Dalam klasifikasi gaya bahasa, metafora termasuk dalam kategori majas perbandingan. Ciri utama metafora adalah tidak adanya kata-kata penghubung perbandingan seperti "seperti", "bagaikan", "laksana", "mirip", atau "bak". Dalam metafora, subjek secara langsung disebut sebagai objek pembandingnya, menciptakan pernyataan identitas yang kuat dan seringkali mengejutkan. Fungsi gramatikalnya adalah sebagai nomina atau frasa nominal yang secara kiasan menggantikan atau mendeskripsikan subjek. Metafora berfungsi untuk memperkaya ekspresi linguistik, membuat tulisan atau ujaran menjadi lebih hidup, deskriptif, dan imajinatif, serta membantu pembaca atau pendengar memahami konsep abstrak melalui gambaran yang lebih konkret. Contoh konkret penggunaan metafora meliputi: "Ia adalah singa medan perang," yang mengidentifikasi keberanian seseorang dengan sifat singa tanpa menyatakan "seperti singa". Contoh lain adalah "Waktu adalah pedang," yang menunjukkan bahwa waktu memiliki kekuatan untuk melukai atau merugikan jika tidak dimanfaatkan dengan bijak, seperti tajamnya pedang. "Bunga desa itu sangat cantik" adalah metafora yang secara tidak langsung menyamakan kecantikan seorang gadis di desa dengan keindahan bunga. "Perpustakaan adalah jendela dunia" merupakan metafora yang menggambarkan perpustakaan sebagai sarana untuk mendapatkan pengetahuan luas mengenai dunia.

Kamus SD SDN Tampojung Tengah Baca Detail
Bahasa & Sastra

Puisi

Puisi, sebuah nomina atau kata benda dalam klasifikasi gramatikal, merupakan istilah yang diserap dari bahasa Belanda poëzie dan bahasa Inggris poetry, dengan akar kata dari bahasa Yunani kuno poieo (berarti 'membuat' atau 'menciptakan') serta poiēsis (yang merujuk pada 'pembuatan' atau 'penciptaan'). Dalam khazanah sastra klasik Indonesia, konsep yang setara dengan puisi dapat ditemukan pada istilah kavya dari bahasa Sanskerta, yang secara harfiah berarti 'karya sastra' atau 'syair'. Secara substansial, puisi didefinisikan sebagai salah satu bentuk karya sastra yang memanfaatkan bahasa secara intensif untuk menyampaikan gagasan, emosi, atau pengalaman melalui pemadatan makna, musikalitas, dan efek estetis yang tercipta dari pemilihan diksi yang cermat, struktur kalimat yang khas, serta penggunaan majas atau gaya bahasa secara ekstensif. Karakteristik spesifik puisi mencakup pemanfaatan unsur bunyi seperti rima (persamaan bunyi pada akhir larik), aliterasi (pengulangan bunyi konsonan di awal kata), dan asonansi (pengulangan bunyi vokal) untuk membangun musikalitas dan ritme internal. Struktur visual puisi seringkali tersusun dalam baris-baris (larik) yang kemudian dikelompokkan menjadi bait (stroph atau stanza), di mana tipografi atau penataan visual kata di halaman dapat menjadi bagian integral dari penyampaian makna. Berdasarkan bentuknya, puisi dapat diklasifikasikan menjadi puisi terikat (puisi lama) yang patuh pada aturan baku mengenai jumlah suku kata, pola rima, dan jumlah baris per bait (misalnya pantun, syair, gurindam, soneta), serta puisi bebas (puisi modern) yang mengeksplorasi kebebasan bentuk tanpa terikat pakem formal, namun tetap mengutamakan kepadatan makna, penciptaan citraan (imagery), dan eksplorasi bahasa konotatif. Dalam disiplin ilmu sastra dan linguistik, puisi menjadi objek studi yang dianalisis berdasarkan elemen intrinsiknya seperti tema, amanat, nada, dan suasana, serta unsur ekstrinsik yang melibatkan konteks historis, sosial-budaya, atau latar belakang penyair. Sebagai contoh penggunaan dalam kalimat akademis, "Analisis terhadap puisi 'Sajak Putih' karya Chairil Anwar menunjukkan eksplorasi mendalam atas tema eksistensialisme melalui diksi yang padat dan penggunaan metafora yang kuat."

Kamus SD SDN Tampojung Tengah Baca Detail
Bahasa & Sastra

Sinonim

Sinonim adalah sebuah nomina atau kata benda dalam kajian linguistik yang merujuk pada relasi semantik antara dua leksem atau lebih yang memiliki makna serupa atau mirip. Secara etimologis, kata "sinonim" berasal dari bahasa Yunani kuno, yakni gabungan kata "syn" yang berarti 'bersama' atau 'dengan', dan "onoma" yang berarti 'nama'. Dengan demikian, sinonim secara harfiah dapat diartikan sebagai 'nama yang sama' atau 'bersama nama', mengacu pada konsep kesamaan makna di antara kata-kata. Dalam ilmu bahasa, sinonimi merupakan salah satu jenis hubungan makna (relasi semantik) yang penting untuk memahami kekayaan dan kompleksitas leksikal suatu bahasa, memungkinkan penutur untuk menyampaikan gagasan dengan variasi ekspresi. Ciri utama sinonim adalah kemampuannya untuk saling menggantikan dalam konteks tertentu, meskipun jarang sekali terjadi substitusi yang sepenuhnya identik tanpa perubahan nuansa, gaya, atau implikasi makna. Perbedaan antara sinonim-sinonim sering kali terletak pada intensitas makna (misalnya: "melihat" dan "mengamati"), konotasi atau nuansa emosional (misalnya: "mati" dan "wafat"), register atau laras bahasa (misalnya: "uang" dan "duit"), serta asal-usul kata (misalnya: kata serapan dan kata asli). Oleh karena itu, para ahli linguistik sering membedakan antara sinonim mutlak (sangat langka, dapat saling menggantikan dalam semua konteks), sinonim dekat (makna sangat mirip tetapi ada perbedaan nuansa kecil), dan sinonim longgar (makna umum serupa tetapi dengan perbedaan signifikan pada konteks penggunaan spesifik). Beberapa contoh konkret penggunaan sinonim dalam bahasa Indonesia meliputi pasangan kata "cantik" dan "elok" (keduanya merujuk pada keindahan, tetapi "elok" seringkali memiliki nuansa yang lebih klasik atau formal), "lihat" dan "pandang" (keduanya berarti mengarahkan mata, tetapi "pandang" bisa lebih intens atau lama), serta "mati" dan "meninggal" (keduanya merujuk pada akhir kehidupan, namun "meninggal" lebih halus dan formal, sementara "mati" lebih lugas dan umum). Keberadaan sinonim ini memiliki fungsi penting dalam komunikasi, yaitu untuk memperkaya kosakata, menghindari pengulangan kata yang monoton dalam tulisan atau ucapan, serta memungkinkan penutur untuk memilih kata yang paling tepat sesuai dengan konteks situasi, maksud komunikasi, dan target audiens, sehingga meningkatkan efektivitas dan estetika berbahasa.

Kamus SD SDN Tampojung Tengah Baca Detail